Laras dan Pengganti Laptop Hilang

Mentari baru saja meluncur dari langit. Kegagahan siang hendak berganti oleh anggunnya malam. Semburat bayang memanjang menemani Laras pulang dari kerjanya. Kembali ke kosan sebentar saja, lalu lanjut dengan status sebagai mahasiswi di salah satu kampus kota bandung. Harinya terasa padat, pagi hingga sore ia bekerja di toko percetakan, malampun kembali berjibaku dengan bab demi bab buku kuliah.

Langkahnya makin dipercepat. Dengan penuh gegas menuju kamar kosannya di lantai 2. Kamar seluas 3*4meter itu menyapa dengan bau cat khas. Segera Laras hamburkan rasa lelah, melewati meja belajar lalu melompat ke tempat tidur. Memejamkan mata, berusaha mengingat mata kuliah apa gerangan malam nanti.
Tapi tunggu.. mata nya kembali terbuka, dalam sigap segera ia terduduk dan termenung menatap ke atas meja belajarnya. Ada yang asing dari pandangannya. Ada yang tak biasa.

InnaliLlahi wa inna ILaihi roji’uun..

Sebuah benda kesayangannya raib. Tiada, lenyap, sirna dari atas meja itu. Sebuah laptop satu-satu yang ia miliki hilang. Lengkap dengan kabel chargernya.

Bahu laras merosot, menyadari ia baru saja kecolongan. Kamar kosannya baru saja didatangi tamu tak diundang. Segera ia melapor ke ibu kosan, lalu kembali ke kamar dengan perasaan pasrah.
Malam itu, keengganan kuliah menyapa. Hanya laptop itu yang ia miliki, laptop hasil menabung dari orang tua nya di kampung. Bagaimana ia harus mengganti agar dapat ia miliki barang sepenting itu?.

Kepalanya pening. Ia hanya merasa tak biasa dengan rasa hilang. Seumur-umur belum pernah kecolongan barang sepenting ini. Ikhtiar ia tuntaskan dengan mengunci rapat kamar. Kamar kosannya juga relatif aman, karena tak pernah ada kejadian sebelum itu. Runut kepala laras melacak siapa gerangan yang biasa mengakses kamarnya. Ahh..makin mumet ia memikirkan, makin jauh rasa ikhlas dari hatinya.

Kedua tangan menelungkup di atas pipinya. Setiap kejadian selalu bersemayam hikmah bagi yang mau berpikir. Sudahlah laptop berwarna merah itu raib, hikmah tak perlu ikut pergi.

Duduk dalam keheningan, Laras mendikte diri. Mengkaji tiap keping waktunya belakangan ini. Adakah hak orang yang ia tangguhkan?, Adakah amalan yang ia abaikan?, Adakah sedekah tak lagi teralirkan?.

Laras menundukkan kepala, bagai anak kecil yang pulang kesorean dari mainnya, ia sungguh merasa malu dan sangat bersalah.

Tangisnya meledak. Bukan sebab laptop hilang, melainkan sadari amalan andalannya memang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.

Biasanya tiap pagi Laras menyempatkan membeli 1 bungkus nasi uduk untuk ibu dan anak yang duduk mengemis di depan halte bus dekat kampus.

Namun, karena kesibukan ia menjelma jadi tawanan dunia. Kerja dan tugas kuliah belakangan memang terasa menumpuk. Akhirnya ia luput dari uluran sedekah yang biasa ia rutinkan. Laras tidak sepenuhnya lupa, karena setiap melintas ia selalu saja melihat dua manusia itu sudah duduk mengemis. Tapi entah karena rasa enggan mana yang merasuk dalam diri Laras, hingga ia merasa tega abai dengan kebiasaannya. Setiap kali ia lewat begitu saja, ibu dan anak itu menatap dengan tatap harap kemudian kecewa. Seumpama kehilangan malaikat yang biasa bersua di pagi mereka. Entah doa apa yang terujar dari bibir lemah kedua pemilik lambung itu hingga Laras disadarkan dengan cara ini.

Lekas ia keluar dari kamar, mencari kepada siapa ia hendak ulurkan sedekah hari ini. Matanya masih sembab, saat ia pandangi pengamen cilik sedang berjalan di pinggir jalan. Laras datangi, meraih tangan adik itu, lalu menyampirkan beberapa rupiah ke dalam genggaman si adik.

“Dik, sudah mau pulang ya?”.
“Iya kak”. Jawab si pengamen sambil memeluk gitar kecilnya,
“Beli makanan yah, buat orang rumah juga. Tolong doakan baik-baik untuk saya.”

Anak itu tersenyum disusuli anggukan cepat.
Entah rasa apa yang pantas dinamakan ketika hikmah berhasil ditemukan. Dihadiahi perhiasan bernilai apapun tak mampu menandingi.

Dari kejadian terselip hikmah untuk dipetik. Pada hikmah manusia dituntun, diajak bahkan ditegur agar kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yg banyak menunduk pada Khalik-nya.

Malam itu, Laras boleh kehilangan laptop. Tidak mengapa, batin membujuk. Lebih terasa musibah jika kelak di hari akhir laptop itu hanya hadir sebagai saksi dari jiwa bakhilnya. Mengerikan.

Dirapikannya selimut tidur, bersegera menutup hari. Hati laras dipenuhi syukur, Pencipta-nya masih memayungi hatinya dengan rasa iman. Kehilangan dunia tidak lantas menjadikan ia mudah bermuram diri. Dan rasa ini lah cukup sebagai pengganti lebih baik yang sudah dijanjikan-Nya.

#TantanganJuniForsen
#yeahnulislagi

Advertisements

Pie brownies poji ale..

Sekarang saya tau kenapa ngedapur itu bikin ketagihan. Karena selain emang mancing sisi penasaran, ngedapur itu juga bisa bikin super jumawa. Haha. Bikin badan terasa melayang-layang kalo dapet pujian. Di makassar, istilahnya poji ale :p.

BarokaLlah dah para penebar resep yang sudah ringan jari untuk ketik dan share di sosmed. Slogan di pilem kartun ratatouille, “anyone can cook” pun jadi berasa shahih.

Ini proyek kesekian kali di dapur ijo-ku. Bikin pie brownies. Yup, sy belom bisa move-on dari genre coklat. Choco addicted. Nunggu bosen dulu mungkin baru bikin yg laen :D. Eh tapi emang bisa bosen? Hehe..

Oke, jadi ini resep sy nemunya di grup LE lagi. Hihi..sabar ari emang nongkrongnya di situ. Silent reader yang doyan copas resep.
Rasanya? Wiih..ngaret coklatnya. Gregetan pengen bikin coba lagi.

image

Before baked

image

Hasil sebenarnya gak sesuai ekspektasi. Pengen ada shiny crust di bagian atas 😦 , tapi kemaren pas nge-oven gak berani gedein api. Kuatir kulit pie-nya gosong. Next mau coba lagi deh, tapi target si shiny crust gak ngumpet lagi.

Tadi pagi, sempat bekalin buat si kk ke skul. Sepulangnya..langsung si kk menghambur ke sy, bilang ustadzahnya minta dibuatin buat makan acara bukber ramadhan nanti. Trus ada temannya juga minta resep mau dikasi buat mamahnya katanya, minta dibuatin. Adohh poji ale detected lagi dah. Haha..

Sharing resep pertama-ku

image

Klo resep brownies mah sudah wabah kli yak di inet. Kue bantet yang selalu jadi kegemaran chocolovers. Nah..saya salah satu-nya. Ini se-loyang 30*10*4cm bisa sehari loh langsung ludes di rumah.

Karena ini baking pertama kali dalam hidup-kuh..yeah..perlu rada2 di-dramatisir kalo yg ginian mah. Hihi. Saya mau abadikan catatan resep si brownies nyoklat banggeutt ini.
Resepnya sendiri saya comot dari grup LE.

Sumber resep: Hesti’s Kitchen
By: Eny Rere

Bahan:
200 gr terigu protein sedang
25 gr coklat bubuk
100 gr gula halus
2 butir telur ukuran sedang
100 ml minyak sayur
100 gr coklat masak DCC, tim hingga leleh
Coklat chips

Cara membuat:
** Ayak: tepung dan coklat bubuk, sisihkan
** Kocok gula dan telur dengan mixer kecepatan rendah asal gula larut saja (tidak sampai ngembang)
** Masukkan campuran tepung dan coklat bubuk yang sudah diayak. Aduk asal rata
** Tambahkan minyak goreng, aduk sampai rata
** Masukkan coklat leleh. Aduk rata
** Tuang ke dalam loyang yang sudah dioles margarin dan dialasi kertas roti. Taburi coklat chips
** Panggang di suhu 180 C selama 30 menit (jangan over bake karena kue akan keras)
** Angkat, dinginkan. Keluarkan dari loyang dan potong-potong.


Tips biar shiny crustnya terlihat. Di awal baking suhu 200c. Sekitar 5menitan gitu..kecilkan api utk capai suhu 150c-180c. Saya pake legend oven ya, otang.

Tekstur brownies ini rada padet, moist di dalam, crunchy di luar..mirip kayak permen mentos gitu deh. Nyoklat banget. Yang lagi mere-mere gak jelas disaranin makan kue dengan tekstur gini..biar mulutnya bisa sibuk ngunyah ama yg manis-manis aja hehe..

Pengalaman pertama ama si otang

2bulan terakhir ini lagi demen ngoprek-ngoprek di dapur. Bocah semakin gede semakin muncak daya ngemilnya. Sebagai emak peduli lambung anak tentu mesti sigap mengantisipasi kondisi ini. Kebanyakan yg di-oprek pun resep-resep manis, seperti kue, roti, olahan coklat bla2.

Soal resep?, segambreng di sosmed. Satu resep bisa puluhan kali di-share dalam sehari. Yah qodaruLlah juga gabung ama grup masak yang doyan siar resep-resep, shahih setelah praktek dari dapur para anggota-nya.

Diawali serba ngukus, saya pun mulai ingin merambah ke panggangan. Yah pas juga, si partner lagi ada dana lebihan dapat tawaran mau beli “mainan” apaan. Hehe.. oven pertama-kuuu tunggu daku.

Setelah googling sanasini, hanya ada 3tipe yang kita kenali : oven gas, oven listrik ama oven kompor. Pilihan saya jatuh ke oven kompor, yah apalagi kalo bukan ama oven legendaris, oven tangkring. Sempat sih kepincut ama oven listrik-nya Kirin.. tapi dari banyak masukan para baker senior, saya bulat milih otang saja.
Adapun alasan si otang jadi oven pertama saya :
1. Ngikut saran para baker senior, saya mah apah gituh.. mereka merekomendasikan otang, karena reputasi-nya memang sudah mahsyur sejak dulu. Lebih bisa diandalkan untuk pemula.
2. Gak perlu horor ama lonjakan listrik (yaeyalah). Dibanding olis yang memang kebanyakan pake watt tinggi.
3. Soal tampilan emang gak se-elegan olis dan oven gas sih. Tapi sebagai pemula, saya lebih senang dipuaskan ama hasil aja lebih dulu. Maklum emak fungsional.
4. Murah. Well ini relatif sih. Namun jika dibandingkan ama olis dan oven gas, jelas otang paling murahmeriah. Saya di Makassar, beli di Alaska seharga 410rb.
5. Sebenarnya juga nih sy naksir ama oven gas(haha..emak maruk), soalnya liat punya bumer cakep aja klo modelnya nyatu ama kitchen set. Hanya saja, dapurku gak seluas milik beliau. Hiks.. cukuplah saya di otang saja.
6. Sekali lagi..karena ini cocok ama pemula. Buat bikin aneka bolu, roti, kue kering..

image

Otang brand HOCK no.3

Untuk pemakaian pertama, tinggal dipanasin aja. Ada yang saranin sih masukin daun pandan biar bau besi-nya bisa cepat ilang. Berhubung gak ada daun pandan, udah aja saya panasin kosong gitu.
Awal pemanasan, akan keluar asap dengan bau besi terbakar. Gak apa-apa..gak lama kok. Sekitar 15-20menit. Matikan trus panaskan lagi.
Saya mengulangi 2kali saja, setelah itu bau besi-nya sudah hilang.

Tiba saatnya, kue panggang pertama saya-pun siap dibikin. Pilihan jatuh ke kue kesukaan saya ama bocah, brownies coklat.

image

Shiny crust-nya dapettt

Langsung sukses, panggangan oke, tanpa bau aneh-aneh. Shiny crust-nya dapet..hal yang gak bisa ditemukan dari ngukus, huhu. Toss lah ama si otang.
Ini nyoklat banget, next saya share resepnya yaa. Abaikan penampilan berantakannya.

Niat Tumbuh Bersama

image

Gak nyadar bocah2 dah mau gede aja. :p. Yakin gak nyadar?. Emaknya mah nyadar banget. Saban hari suka-nya celoteh..”kapanlah mereka2 ini gede, biar bisa mandiri?.”. Dan belakangan ini saya pun sadari mereka memang perlahan mandiri. Apa ini yg saya inginkan?. Ada iya-nya juga sih..seraya malah buru-buru ngambil kaca. Iya buat ngaca, ngukur diri

Anak-anak terus tumbuh, berupaya mengeksplorasi banyak hal seperti dalam doa orang tuanya, tapi apa kita sudah dalam tahap mampu atau mau mengimbangi mereka.
Tumbuh bersama mereka, gak stagnan belaka.

Kita berdoa mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakidah kuat, tapi kita perlu bertanya apa selama ini kita sudah menyandarkan semua hal pada satu yg Esa?. Mengajak mereka beriman lalu mengaplikasikannya tidak hanya dalam ibadah namun juga perilaku keseharian.

Kita juga berdoa mereka tumbuh dengan kemampuan mencari tahu yang tinggi, tapi apa sudah upaya mampukan diri untuk menjadi tempat bertanya yang baik, atau setidaknya teman yang betah duduk bersama mereka ketika pertanyaan dimulai dengan “Bun..kenapa ya?..”.

Kita berdoa mereka tumbuh dengan kemampuan sosial baik, tapi apa sudah mencontohkan adab baik ketika bergaul dengan orang yang lebih tua atau lebih muda?, terhadap binatang, tumbuhan?. Bagaimana menyapa dengan baik, bertoleransi terhadap perbedaan, menerima sesuatu yang tak disukai dengan bijak.?

Lambat laun..mereka tumbuh sesuai ekspektasi dalam doa. Sehat, cerdas juga mandiri. Semua tidak lain tentu seijin Pencipta-nya. Memampukan diri ialah perkara pilihan, takdir yang harus kita ikhtiarkan bersama. Dengan itu, semoga ALLAH mudahkan urusan-urusan agar dapat turut tumbuh bersama anak-anak kita.

Punya Mobil = Mapan?

11218465_1054778031212562_6960964262195047177_n

Pas lebaran kemaren ada keluarga nyeletuk..
“Sudah pantes beli mobil..gak usah nae motor lagi..”

Kami nyengirr…

Ortu juga sempat nyeletuk..
“Kapan nih garasi di-isi?.. Sudah beranak 3. Kasian panas kemana2..”

Kami mengamini..

Security kompleks juga ikutan mengompori..
“Aduh pak..dah pantes nae mobil nihh..”

Kami mengiyakan.

Continue reading

Cerita di trimester akhir

Mungkin memang tabiat manusia kali ya, jika merasa sudah berpengalaman dikittt ajaa..maka sok tahu-nya sok benerrrr.. Seperti itu-lah sy di kehamilan ke-3 ini, mungkin lantaran sudah cukup paham dengan rasanya hamil dan melahirkan, jadi berasa males2an buat kontrol ke dokter. Di usia trimester akhir, yang perkiraan dokter sudah memasuki week 35-36 sy disarankan untuk datang kontrol seminggu sekali, eh..sudah 3minggu ini belum juga menongolkan batang hidung ke ruang dokter untuk mengecek bagaimana perkembangan janin sy. Well nak, bukan tak cinta..tapi berasa mualaasss banget euy ke dokter. Gak tau kenapa, kali ini cukup mengandalkan insting saja, bahwa dikau baik-baik sj dalam rongga perutku kini.