Belajar dari Mamak

Minggu ini, angingmammiri mengeluarkan tema “perempuan inspiratifku” untuk proyek 8minggungeblog minggu ke-3. Awalnya yang terlintas di pikiran saya adalah wanita pertama saya, siapa lagi kalau bukan Ibunda saya sendiri. Tapi dalam tulis saya kali ini, saya akan coba untuk mengambil inspiratif lainnya. Sebenarnya banyak perempuan yang sudah menginspiratif saya. Dari sosok Al-Khadjiah, Siti Aisyah, Ibu Ainun(istri Bapak Habibie) hingga seorang Yoyoh Yusroh. Namun, belakangan ini dalam kepala saya disibukkan dengan 1 sosok perempuan fiktif. Loh kok fiktif?.. iya, karena sosok tersebut adalah seorang tokoh yang tertoreh di sebuah novel. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Sudah hampir 3bulan lamanya, saya bergelut dengan novel karya Tere Liye. Bertajuk mengenai kehidupan 4 anak Mamak. Elianna, Pukat, Burlian dan Amelia. Novelnya sendiri merupakan antalogi dengan judul dari ke-4 nama anak Mamak tersebut. Kebetulan saya sudah memiliki ke-3 di antaranya, Amelia akan terbit belakangan. Penulisnya sendiri mengakui bahwa Ia belum rampung menuliskan mengenai seorang anak Mamak yang sering sakit-sakitan tersebut tapi ingin tumbuh kuat dan sehat seperti anak lainnya.

Namun, untuk tulisan saya kali ini, bukan mengenai ke-4 anak Mamak yang menakjubkan yang ingin saya ceritakan. Tapi bagaimana seorang Mamak, dengan kesederhanaan juga ketangguhan dalam mendidik para buah hatinya, hingga kesemua anaknya tumbuh dengan kekuatan dominan masing-masing.

Saya, sebagai Ibu Rumah Tangga, sungguh selalu dicengangkan pada hal-hal menginspirasi yang dilakukan para Ibu di bumi ini dalam mendidik anaknya. Jika pun tokoh inspiratif saya kali ini adalah seorang fiktif, tak mengapa. Bukankah pada setan sekalipun, kita bisa mengambil pelajaran?, lalu kenapa pada tokoh fiktif tak boleh?..

novel

Novel karya tere liye. Kisah anak-anak Mamak yang luar biasa

“Oi, anak perempuan itu mestinya tahu memasak. Karena kelak dia berkeluarga, dari masakannya dia bisa menentukan perangai suami dan anak-anaknya”.

Kutipan di atas adalah seruan Mamak Nurmas, ketika mengomeli Eliana yang tidak becus memasak. Mamak yang penyayang tetap tidak meninggalkan sikap manusiawi-nya yang juga mampu marah lantas mengomeli anaknya satu persatu. Mamak memang jauh dari sosok Ibu yang selalu lemah lembut, semata menjadi tempat bermanja para anaknya. Mamak bahkan banyak diceritakan dalam kondisi senantiasa bergerak karena bekerja, peluh karena entah sedang berladang, memasak, melipat baju juga menyiapkan kopi untuk Bapak, suaminya.

Dalam novel Pukat, diceritakan bagaimana Mamak menghukum Pukat yang melanggar perintah dengan tidak memberi makan malam sebagai buah kesepakatan Pukat sendiri dengan Mamaknya. Disiplin serta konsisten tetap Mamak tegakkan, meski dalam hatinya sendiri perih melihat Pukat kelaparan di tengah dingin malam rumah mereka. Mamak mengajarkan bagaimana diri mesti bertanggung jawab pada setiap keputusan sendiri. Merengek, merajuk apalagi cengeng tak pernah digubrisnya. Variabel-variabel tersebut tak pernah boleh dimiliki oleh mereka yang memiliki cita-cita besar. Mamak menanamkan pemahaman bahwa pemakluman diri adalah penyakit kronis yang dapat melucuti keberanian diri.

Saat matahari bahkan masih enggan terbangun, seorang Mamak sudah sibuk mengurusi rumah juga keluarganya. Menyiapkan sarapan, lantas mengawasi satu persatu anaknya hingga menghabiskan sarapannya, jika ada yang merengek enggan menghabiskannya, Mamak sudah siap mengomel ..

“Jangan mentang-mentang kalian beruntung setiap kali ke dapur, sudah tersedia makanan. Setiap kali hendak makan sudah ada nasi, kalian jadi meremhkan setiap butirnya. Di luar sana, banyak orang-orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan sepiring nasi. Banyak yang kurus-kering bermimpi makan teratur dan cukup.”.

Kemudian, meminta partner hidupnya, Bapak, untuk mengajak anak-anaknya merasakan sendiri bagaimana sulitnya memperoleh sebutir nasi. Mulai dari membuka hutan, menyiapkan sawah, menjaga sawah dari hama-hamanya hingga memanen padi.

Berawal dari pemahamanlah, maka pola pikir baik terbentuk. Mamak seolah-olah berbicara pada saya. Membuka pikiran saya seluas-luasnya, melihat dengan mata terbuka dengan kondisi kita hari ini. Betapa gaya hedonis, kemudahan teknologi dimana-mana, jika tak mampu dicermati dengan baik, bisa membuat anak-anak kami sekarang menjadi sosok lemah. Jiwanya tumpul, jauh dari pengasahan yang semestinya ditempa oleh pelajaran hidup sesungguhnya.

Bagaimana tidak, dalam jiwa seorang Ibu, selalu tertanam ingin terbaik bagi buah hatinya. Mengedepankan kebutuhan anak, memfasilitasi hidupnya dengan sebaik mungkin, adalah bagian fitrah yang tak bisa ditampik dalam batiniah setiap Ibu. Namun jika tidak dibekali dengan ilmu mumpuni. Dari tangan seorang Ibu jugalah, ia dapat menjemuruskan anak-anaknya pada kehampaan akhlak baik, kemorosotan moral dsb-nya.

Mamak bekerja dengan pemahaman baik. Meski kadang dianggap jahat bagi anak-anaknya, tapi Mamak tetap bekerja dengan pemahaman baik tersebut. Jauh sebelum anak-anaknya menjadi cemerlang di kehidupan masing-masing, Mamak sudah mantap dengan masa depan ke-4 anaknya. Karena selain yakin dengan pola didiknya, ia juga memiliki kekuatan doa yang bagi setiap Ibu miliki.

Demikianlah seorang Mamak telah menginspirasi saya. Membekali saya dengan pengertian mulia mengenai mendidik anak. Doa dan bekerja adalah 2 hal yang harus terus saya gerakkan dalam setiap denyut nadi saya sebagai seorang Ibu. Di kaki para Ibu boleh jadi ada syurga, tapi di tangan mereka-lah peradaban terjadi. Keajaiban-keajaiban hidup  bermula dari kerja para Ibu. Dan hal itu memerlukan effort yang tak mudah.

One response to this post.

  1. novelnya menarik ya, jadi kepingin baca😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s