Harmonis dalam beda

Manado. Apa yang terpikir ketika saya tiba di tempat ini?. Jauh dari sanak saudara, teman tak ada, apalagi sahabat. Saya hanya punya beberapa kenalan, itu juga karena interaksi dunia maya, jadinya kami saling kenal. Hingga akhirnya, tahun 2010 lalu saya menginjakkan kaki ke dalam rumah kami. Mengandalkan suami dan Tuhan sebagai sebaik-baik penjaga saya, maka  hiduplah saya di sini. Manado. Btw, untuk tulisan ini saya ikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Rumah saya, berada agak jauh dari kota. Untuk mencapainya pun tak ada mobil angkutan. Tapi bicara soal rumah, kali ini saya tidak ingin bicara soal letak ataupun bagaimana lebatnya rumput gajah yang kini tumbuh di samping kanan rumah saya.Melainkan bagaimana kami hidup bertetangga di sini, saya yang sebagai bagian minoritas, yang ingin terus beradab selaku tetangga, keluarga terdekat mereka, dan mereka sebagai keluarga terdekat saya dan suami di sini.

Jika dulu sebagian hidup saya dihabiskan dengan menjadi bagian mayoritas, baik itu dari segi agama, suku, bahasa dsb-nya. Untuk pengalaman hidup  saya kali ini agak beda sepertinya. Di sini mayoritas penduduk manado beragama nasrani, dimana-mana berdiri gereja. Untuk hal ini saja saya belum terbiasa, lantaran lebih sering melihat masjid dulu-nya. Di sini, masjid jarang sekali terlihat, jadi jangan tanya apakah saya sering mendengar adzan di sini. Hampir tak pernah.

Tetangga kiri saya kebetulan beragama muslim, tetangga tangan kanan saya beragama nasrani yang cerita punya cerita memiliki menantu seorang muslim, cucu-nya saja bernama Akbar. Saling bertoleransi dengan memahami perbedaan satu sama lain menjadi dasar kami bertetangga.

Jika berpas-pasan dengan tetangga  di jalan tak jarang saya mendapat sapaan lebih dulu. Awal pikir, hidup dengan menjadi minoritas bisa-bisa saya menjadi bagian dipinggirkan. Bagian yang ada dan tidak ada sama saja bagi mereka. Bagian yang tak penting. Tapi rupanya, meski saya yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga dengan 2 putri yang masih berusia batita, yang notabene amat jarang keluar rumah untuk berinteraksi dengan mereka, tapi toh mereka diam-diam mengenal saya, sebagai seorang yang tinggal di rumah nomor ini, istri bapak siapa. Dan sungguh, saya sangat tersanjung dengan pengakuan keberadaan saya di tengah mereka.

Ada kala-nya juga jika makanan yang saya buat berlebih, atau ada oleh-oleh yang dibawa oleh suami sepulang dari luar kota-nya, sebisa mungkin saya akan membawa kelebihan tersebut untuk tetangga, sembari bertanya soal kabar mereka. Sekedar berbasa-basi, hendak memberi kesan sikap kepedulian kami sebagai tetangga. Begitupun sebaliknya, tak jarang justru kami yang kedatangan oleh-oleh makanan dari tetangga kami.

Suami saya, yang bekerja di lingkungan kerja sebagai minoritas, amat sering mendapat perlakuan toleransi yang baik. Seperti untuk sholat jum’at, suami justru sering diingatkan oleh rekan kerjanya yang beragama nasrani. Memang ada kala-nya mereka juga mengadakan perayaan-perayaan dengan suguhan makanan yang tak boleh kami konsumsi sesuai dengan keyakinan kami, tapi bukankah dalam hal ini kami-lah yang mesti menempatkan diri untuk bertoleransi dengan perayaan mereka. Cukup tinggalkan makanannya saja, bukan mengumpat-ngumpat si pembuat perayaannya.

Hidup damai dengan perbedaan seperti ini, mengingatkan saya mengenai catatan penting diri sebagai makhluk sosial. Bahwa hidup berasaskan ketulusan serta rasa persaudaraan tinggi, akan menciptakan keakraban dan tenggang rasa tinggi. Saya percaya, kita dengan berbagai kemajemukan, amat bisa menciptakan suasana harmoni walau dengan tetap memiliki pendirian kuat sesuai dengan jati diri masing-masing.

Meski mungkin jauh dari tempat tinggal kami, begitu banyak perpecahan yang hanya didasari sikap enggan bertoleransi, di manado sini, kami belajar menjunjung tinggi untuk saling peduli, saling mengakrabi satu sama lain.

Manado?. Apa yang terpikirkan di kepala saya kini?. Kota tempat tinggal saya. Tempat saya belajar memahami mengenai keseimbangan dalam beda.🙂

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri” 

5 responses to this post.

  1. Paman saya, adek dari ibu saya, menikah dengan orang Manado yang beragama Kristen. Ketiga anak mereka, sepupu-sepupu saya, menggunakan ciri khas bugis di depan nama mereka, yaitu kata “Andi”. Tapi mereka bertiga non muslim. Aneh saja jika ada orang Bugis yang bukan muslim. Ketika berkunjung ke rumah mereka di manado, saya disambut dengan baik.
    Saat Paman saya meninggal dunia, keluarganya mengebumikan dengan cara Islam dan keluarganya melaksanakan pengajian ta’ziah selama 3 malam. Yang hadir, bukan hanya orang Muslim, tapi juga dari tetangga-tetangga yang non Muslim.

    Reply

    • Di sini toleransi-nya kuaattt.. Pada hari perayaan misalnya, jika natal, teman2 muslim bantu mengamankan jalan. Dan jika kami berlebaran, teman2 nasrani juga bahu membahu memperlancar jalanan. Makany klo di daerah2 laen lagi rusuh karena isu sara, di sini kita2 sering menyayangkan aja😦

      Reply

  2. Suatu perbedaan yang indah ya. Seharusnya semua daerah bisa seperti ini. Salam kenal🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s