Pulau Gangga.. We’re coming.!

Pergi beribur atau piknik kadang menjadi hal dilematis bagi saya. Loh?, bukannya menyenangkan pergi berlibur?. Well, pasalnya hal yang pertama yang terbayang di pikiran saya adalah mengenai betapa repotnya liburan dengan membawa 2 putri kami. Khansa 2y dan kanaya 1y. Tapi di sisi lain, sebagai Ibu Rumah Tangga, yang ikut suami merantau ke kampung orang,  Manado, tentu saya butuh yang namanya refreshing. Liburan bisa jadi pilihan baik, selain shopping tentu-nya, hehe.

Seperti 2 minggu lalu, rasanya tak tega menolak ajakan suami untuk menemaninya ikut berlibur bersama rombongan rekan kantor-nya. Meski agak setengah hati, saya coba untuk berdamai dengan diri, mungkin sudah saatnya saya juga turut berlibur.

Segera saya menyiapkan segala sesuatunya. Makanan, cemilan, pakaian ganti, handuk, popok, dsbnya. Setelah suami pulang dari kerja, kami pun segera keluar untuk beli cemilan sebagai bekal untuk besok pagi.

Oya, untuk berlibur sebaiknya juga bekali perlengkapan dengan buku panduan, yang bisa memberi banyak informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan persiapan, peta, tempat tujuan berlibur lengkap dengan serba serbinya seperti akomodasi, tempat penginapan, restoran, warga setempat, makanan dsbnya.

Keesokannya, pukul 7pagi, karena kami agak terlambat, rombongan mobil ada yang lebih dulu berangkat. Syukur, masih ada mobil teman yang menunggu kami di suatu tempat, kami pun berangkat bersama-sama. Untuk menuju ke pulau Gangga perjalanan melewati desa Likupang, Sulut. Jarak tempuh sekitar 1jam. AlhamduliLlah, karena masih pagi, jadi perjalanan terasa lebih menyenangkan, tanpa menghidupkan AC mobil, kami semobil menikmati udara sejuk sekitar pegunungan desa Likupang. Saking sejuknya anak-anakpun sempat tidur.

LINE_1363867091165

Siap temui pulau Gangga dengan segala eksotiknya

Akhirnya kami tiba di dermaga menuju pulau Gangga. Rombongan beranggotakan sekitar 25orang. Perjalanan dilanjutkan dengan speed boat sekitar 30menit.

Sesampainya kami di pulau Gangga, acara dilanjutkan dengan makan siang lebih dulu. Untung saja, ada rumah seorang kawan di sana yang sudah bersiap menyambut kami dengan ikan bakar besarnya. Nyummy, perut lapar saya akhirnya menunaikan hak-nya. Anak-anak juga senang sekali dengan trip perjalanan ini, karena sepanjang perjalanan ditemani anak-anak teman lain, khansa dan kanaya enjoy bermain.

LINE_1363867137055

Melintasi hutan sebelum capai pantai

Sayangnya, untuk mencapai pantai target rombongan, kami kembali harus menempuh perjalanan jalan kaki. Speed boat yang kami tumpangi tidak mampu mencapai pantai tersebut, karena air sedang pasang, sedang di pantai tujuan kami tak ada dermaga sama sekali. So, mau tak mau kamipun berjalan kaki dengan perut penuh. Bisa kebayang kan bagaimana rasanya?, jam menunjukkan sekitar jam 1 siang saat itu, sangat terik. Saya pun berbagi gendongan dengan suami, dan rasa-rasanya mulai timbul gelagat emosi negatif di hati. Cuaca terik, perut masih terasa penuh, berjalan kaki selama kuranglebih 20menit, menggendong batita pula. Pfiuh.

Beberapa teman lain, mencoba menyemangati rombongan, dengan berkelakar kembali mempush energi gerak kami yang baru saja dimakan oleh menu ikan bakar. Hehehe. Dan, up..up..up.. kami-pun lanjut berjalan. Medan perjalanan yang kami tempuh juga tidak mudah, setelah melewati sekitar 50meter rumah warga, akhirnya kami masuk ke hutan, melalui tanjakan, melompati batang pohon tumbang, juga sesekali mencari pijakan menghindari tanah lunak. Tentu ini tak setiap hari saya temui kan?, saya malah bergirang hati melakukannya. Hitung-hitung bisa jadi menurunkan berat badan saya, hehe.

Anak-anak juga tidak terlalu rewel sepanjang babak berpanas-panas ria tersebut. Sibuk menunjuk-nunjuk pohon dan beberapa hewan terbang di sekitar.

Dan..ketika tanah kembali landai, garis biru mulai tampak. Bersih, jernih, dengan kilauan tanpa tanding. Makin melaju langkah, kami temui pula garis pantai yang disusuli warna putih mengkilatnya. Aih-aih, perjalanan panjang yang sempat ditingkahi hati enggan, akhirnya menemukan hasil sepadan. Speed boat yang kami tumpangipun telah menunggu di sana, kurang lebih 50meter dari garis pantai.

Lihat….pulau eksotisme ini ternyata menyimpan keindahan pantai yang masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Semua-nya serba alami. Untung saja, sekitar 50meter dari garis pantai, berdiri bangunan kayu jadi kami bisa bersantai sejenak. Duduk, minum air, dengan mata yang masih lekat pada pantai. Anak-anak sudah menghamburkan diri ke air, tak sabar, meski cuaca tanpa ampun menghujamkan panasnya.

img_20111128115114_4ed31342d54ef

Eksotisme Pulau Gangga*

1363932084975

Bebatuan di pesisir pulau Gangga

Suami saya, kebetulan memiliki hobi diving. Setelah meletakkan barang bawaan, langsung berganti kostum untuk segera nyemplung ke air. Saya?, hohoho.. sibuk mengurus bawaan tentu-nya. Tapi itu tidak lama, karena setelah itu saya gabung dengan anak-anak untuk mengawasi mereka bermain air di pantai.

Pulau Gangga, adalah salah satu pulau terluar dari sulawesi utara, hampir berbatasan dengan Filipina. Untuk menginap, pulau Gangga juga dilengkapi dengan resort. Para wisatawan yang datang biasanya menikmati pulau Gangga dengan rekreasi pantai, berenang, snorkling juga diving. Karena selain elok dengan pantai, lautnya juga menyimpan harta kekayaaan laut tak ternilai. Di antaranya keanekaragaman ikan serta hewan laut lainnya juga rumah karang yang memiliki ukuran besar.

1363932112266

Khansa, Kanaya dan pantai pulau Gangga

IMG_3993

Khansa bermain pasir pantai

IMG_3986

Bermain air

Anak-anak menemukan hiburannya sendiri. Anak mana yang tidak menyukai air?, sesuka hatinya bergulingan di pantai, mengangkat pasir lalu memperhatikan satu persatu pasir jatuh dari genggamannya. Sayapun tak risau sama sekali dengan kebersihan airnya, karena sungguh air sepanjang pesisir pantai benar-benar jernih bebas sampah.

Beserta teman-teman lainnya, saya juga sempat menikmati air kelapa yang langsung diambil dari buah kelapa di pantai tersebut, buah hasil manjat para bapak-bapak, hehe. Rasanya manis sekali, suami sampai berulang-ulang memuji betapa indahnya kekayaan Tuhan yang sedang kami nikmati tersebut.

Hari makin sore, air laut juga semakin surut, speed boat yang kami tumpangi pun semakin merapat ke pantai. Itu berarti kapal memberi tanda untuk siap kembali ditumpangi. Bungsuku yang sempat tertidur karena semilir anginnya pun juga sudah kembali peroleh energinya, usai lelah bermain air. Menyempatkan diri berpoto-poto bersama rombongan, satu-satu dari kamipun menaiki speed boat , bersiap untuk pulang.

Kapal menepi ke pantai

Speed boat menepikan badannya di dermaga, mobil-mobil juga sedari tadi telah menunggu kami untuk mengantar kami kembali ke rumah. Matahari di barat perlahan menundukkan lengkungannya, hari semakin hitam. Tubuh-tubuh kami juga sudah sangat lelah, tapi masih ada cukup energi untuk membahas bagaimana indahnya pulau Gangga selama perjalanan.

Liburan ternyata tidak perlu dianggap sedilematis saya pikir. Toh, repot-nya tidak sebanding dengan kepuasan hati untuk menikmati setiap jengkal keindahan bumi ini. Bagi yang ingin menikmati salah satu keelokan milik Tuhan yang belum terjamah, saatnya mengepak persiapan berlibur ke Pulau Gangga.

Deen – Manado

* (foto diambil dari detiktravel.com)

Tulisan diikut-sertakan pula dalam kuis kamis 21-28mar IIDN.

5 responses to this post.

  1. masha alloh indah sekalii🙂

    Reply

  2. Posted by fhyra farhan on March 29, 2013 at 11:26 am

    keindahan yg tersembunyi ^^

    Reply

  3. boleh tahu biaya penginapan di pulau gangga gak ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s