Letihnya letih

jejak-langkah11

Pfiuh, kerinduan seperti apalagi yang pantas dibahasakan oleh seorang pecinta kepada kekasih hatinya. Begitu melangit pedihnya, hingga sejarah terus mengingat bagaimana seorang Siti Hajar tak memiliki pilihan lagi selain untuk terus berusaha menjadi pribadi tangguh, ketika NabiyuLlah Ibrahim meninggalkannya tanpa memberi alasan. Siksa jiwa rindu yang harus disembuhkannya dengan gerak dan gerak. Bukan berdiam diri dengan menangisi kemalangan. Adakah ALLAH menjadi pilihan ketika tiada lagi harap di sisi?


Pagi ini, setelah chatting dengan senior, kembali sy merasa kerinduan itu. Sebuah sesak kembali menyeruak. Kembali tanya itu menusuk dalam bisik..”Demikian dahsyatnya kah seorang makhluk mengangkangi hari2-mu?”.

Senior sy itu juga sedang berjauhan dengan suami-nya. Meski masih dalam satu pulau, alasan akomodosi yang mahal yang lebih sering diabaikan demi menyambut adek bayi menjadi akibat merekapun jarang bertemu.  Mungkin sy masih lebih beruntung, karena tiada kepayahan fisik dan jiwa yg lebih seperti senior sy itu, sementara suami sedang di kordinat yang tak kami ketahui.

Lelah, letih seperti juga telah lelah mengiringi langkah2 kami. Jarak pun dgn sombong berkali2 menantang untuk bertarung dengan rindu itu. Hfh..

Sudah hampir 10 bulan sy hendak menyelesaikan kuliah di sini, dan selama itu pula jauh dari suami menjadi pilihan. Tidak mudah menjalani konsekuensi dari pilihan yg sebenarnya adalah musuh dari fitrah diri. Sebagai isteri tentu sebaik2 tempat adalah di samping suaminya. Namun, bukan berarti, pilihan itu dibangun dari niat setengah2, tujuan sepotong2..meski harus rela mengungkung diri dalam letihnya letih. Dengan keridhoan dari sgala penjuru, maka langkahpun telah memilih.

Selain itu, agaknya menjadi hal penting bagi diri, atau bagi siapa saja ketika jauh dari kekasih hati, untuk terus mengingatkan diri mengenai kepada siapa pelabuhan terakhir jiwa ini tertambat. Agaknya sy harus terus ingat, betapa sayangnya ALLAH, hingga setiap tetes rindu yg keluar hendak digiring-NYA ke lembar sajadah, untuk disuguhkan nikmatnya sujud di sana.

Kegelapan dalam sepi harus terus dibunuh dengan pelita keyakinan akan sebuah cahaya harap.

Meski letih itu semakin memuakkan. Pilihan itu tak boleh menjadi sia-sia kelak. Persis seperti kepayahan Siti Hajar yang membuatnya tangguh dan elok dalam hadapi hidup. Hingga peradaban baru-pun terbangun dari tanah yang menjadi saksi dari sgala kerinduannya.

Maka..Ishbir…ishbir..ishbir.. pun menjadi nafas bagi jiwa.

*di pagi yg cerah, 09:50am, ditulis bagi para isteri yang kini sedang jauh dari suaminya.. Tetap semangat..!. Tapi jangan lupa untuk pulang ke sisi suami yaa ….😀

2 responses to this post.

  1. waaa… yang lagi kangen suami. hmm…. ini ttg sebuah pilihan. dan akan selalu ada resiko yg mengiringi setiap pilihan kita. ah, qt pasti lebih tau soal ini kak. Selamat menanti saat2 indah bersama suami.😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s