Upah Lupa Sedekah

Baru 2 pekan sy memiliki laptop imut putih itu. Pemberian suami. Dan sy benar2 menyukainya. Saban hari selalu sy tengok, bahkan hanya untuk menatapnya tlah menjadi kegemaran. Selain karena pemberian suami, memang sejak dulu sy mendamba memiliki laptop yg imut, enteng dibawa kemana2 . Hampir di tiap waktu luang, interaksi sy bersama benda berwarna putih itu.

Sy yg biasa lebih banyak membaca dan meluangkan diri untuk menyimak sekitar, menjadi benar2 antusias dengan benda kecil itu. Ketika pun sedang dalam perjalanan ke kantor dengan kereta, sy tidak merasa takut untuk membuka laptop depan penumpang lainnya. Padahal sikap sy ini bisa sangat-sangat mengundang niat jahat. Ah, sy lagi bener2 senang maen dgn laptop baru ini.

Ada kebiasaan yang berusaha sy jaga, yakni enggan melepas hari tanpa sedekah sedikitpun. Seperti halnya sy tahu, bahwa selalu ada tangan menganga ke atas di hari itu. Mudah sj bersedekah di kota ini. Di setiap lorong, jembatan, sudut jalan, tempat ibadah.. sedekah menjadi hal yg sesungguhnya mudah. Klopun menjadi sulit, bisa jadi karena Rabb sudah tidak memberi kesempatan atau justru kita sendirilah yang sengaja mengabaikan tabungan dunia akhirat itu.

Pagi itu sy diuji. Laptop imut membuat sekat antara sy dan sedekah. Jika biasanya di tiap pagi sy teringat akan sedekah, pagi itu mata sy digelapkan dari tangan2 meminta. Sy tiba2 sangat terhipnotis pada layar laptop dan sibuk dengan urusan tak-tik-tak. Satu demi satu tangan yang menawari tiket ke syurga lepas. Sedang diri sama sekali tidak tersentil. Ucapan maafpun tak ada yang terucap dari lidah ini.

Lalu haripun bergulir seperti biasa. Keesokannya, tak seperti biasa, sy meninggalkan laptop di kosan. Sy ingat, hari itu sy memang enggan membawa laptop karena dihari itu ada ujian, kuatir perhatian sy akan tersita oleh laptop, maka biarlah sy melepasnya untuk hari itu sj.

Sekejap perhatian dari laptop berganti dengan ujian. Di pagi hari itu, dengan ritme hidup seperti biasa, tangan2 meminta kembali menagih kebaikan. Dan lagi2 sy hanya berkonsentrasi pada kertas2 ditangan. Bersiap ujian. Tak sepeserpun, tak ada senyum diiringi maaf sedikitpun, tangan2 itu lewat begitu sj.

Hingga mentari hendak menutup hari, sy masih terlupa dgn pesan Rasul, untuk tidak mengecewakan tiap tangan yang meminta.

Entah kenapa di hari itu, sy diserang dengan perasaan badmood, dengan banyaknya tugas kantor, ujian dan tugas kuliah serta merta membuat pikiran sy membludak. Ingin rasanya menghentikan waktu, sedikit menarik napas untuk membuang beban. Sy pun teringat dgn urusan sedekah. Salah satu jalan untuk mendekat dengan Rabb yakni mendekati mereka yang fakir, karena Rabb lebih dekat pada doa munajat yang terintih2 serta payah. Saat menunggu makanan yang sedang dibuatkan oleh warung dekat kosan sy, seorang pengamen mengalunkan lagu untuk para pelanggan warung. Aha, di sanalah sedekah sy akan berlabuh untuk hari ini. Meski ada rasa sesal, kenapa hari itu, di hari jumat..sy teringat sedekah ketika mentari sudah tertudung dengan gelap. Toh, yang penting dah sedekah..bela hati.

Sepulangnya, sy terperangah melihat pintu kosan yang sudah terbuka setengah. Mata langsung tertuju pada tempat menaruh laptop imut. Dan sudah bisa ditebak. Laptop yg baru sj lengket dengan sy itu telah raib. Kosan sy dimasuki maling. Hanya bisa tertegun lemas duduk di kursi. Belum cukup sejam sy diingatkan oleh Rabb dgn urusan sedekah, kembali Rabb menegur sy dgn kehilangan.

Sy ingat, bahwa sejak kemarin hingga malam itu, sy memang disibukkan dgn laptop dan urusan2 kerja serta kuliah. Seolah2 hati ini telah mengeras dan membatu hingga setiap mata mengiba dan tangan berharap tidak  kunjung mampu menggugah kepedulian sy.

Sy lupa bahwa berbuat baik itu tidaklah pernah disuguhkan, tetapi selalu berada disekitar untuk dijemput. Diri khilaf ini kembali terlupa bahwa dalam kebaikanpun slalu ada arena bagi mereka yg berlomba2 utk raih pintu syurga. Begitu payahnya diri ini dengan melupakan hal bahwa rejeki bukanlah apa2 jika tidak berdaya manfaat bagi sesama.

Semakin sadar, bahwa ada ruang dalam hati pekat ini yg mudah disusupi oleh cinta pada dunia, cukup dgn ujian kesibukan tugas kerja dan kuliah..dengan sekejap sy menjadi pribadi yg skeptis, tidak empati dan kurang bersyukur.

Sungguh malu ditegur Rabb dgn raibnya sesuatu yg kita senangi.  Namun sy tetap bersyukur karena dgn itu sy merasa Rabb masih sangat menyayangi sy.

Smoga sy mendapat balasan yg jauh lebih baik. Dan smoga diakhirat sana, kelak laptop itu tidak menjadi musuh yang menunjuk diri sebagai seorang yg bakhil. Amin…

3 responses to this post.

  1. Posted by wahyu85 on May 11, 2009 at 12:19 pm

    huhuhu.. jadi malu ka baca tulisan ta puank…

    Reply

  2. makasih dah berbagi sekaligus ngingetin ye neng…. Insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik…

    Reply

  3. makasih deen, tertamparka sede sama ini postingan T_T

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s