Masih tentang nikah

malili

Slalu ada rasa bahagia setiap kali sy menceritakan pada teman2, ataupun kenalan mengenai bagaimana Rabb mempertemukan sy dengan suami. Cerita indah yg singkat dengan dilakoni oleh sahabat2 yg mencinta dan sy cintai karena ALLAH, lalu berujung pada kota indah nun sejuk di sulawesi sana.

Masih jelas di kepala sy, bagaimana mata para handai taulan yg hampir 6 tahun lamanya tidak sy temui.. mendengar bagaimana proses kami yg beranjak ke akad nikah.

”Ta’aruf ?.. apa itu?”

”Bagaimana ceritanya?, kenapa belum ketemu..lalu menikah? bagaimana klo calonmu itu cacat?tidak takutkah?”

”Sy kira di jaman sekarang, sudah tidak ada lagi proses seperti itu..”

”Hanya liat di poto?, bagemana klo wajah calonmu itu tidak sperti di poto?”

Dan berbagai komentar lucu namun memberi kesan sendiri untuk sy. Mereka yg jauh dari hirukpikuk kota, mereka yg belum mengenal dengan beberapa nilai2 indah islam.. tiba2 begitu antusias dgn proses nikah yg sungguh ”aneh” itu. AlhamduliLlah sy diberi kesempatan oleh Rabb untuk mengisahkan cerita indah itu kepada mereka.

Sy dan suami menikah di Malili, salah satu kemudahan yg Rabb berikan kepada kami. Dimana kota tersebut adalah tempat kakek sy merantau, dan juga kampung mama mertua. Kedua kubu yg dulunya tidak saling mengenal hingga akhirnya sy dari Jakarta, dan suami dari Manado mempertemukan kedua keluarga yg dekat namun tidak kenal mengenal itu untuk menjadi 1 keluarga.

Sy tersenyum bagaimana mereka berdecak mengakui kekuasaan Rabb yang telah menanamkan keyakinan pada hati kami, menuntun langkah2 kami hingga ke kota kecil nun sejuk itu. Sebuah kota asing yg tak pernah sy injaki, berbeda 180derajat dengan kota Jakarta yg amat angkuh itu. Sy tidak pernah membayangkan bahwa sy akan menikah di sebuah kota kecil yg dikelilingi oleh gunung dan sungai yg senantiasa berzikir padaNYA. Juga di pagi hari sejuk dengan hujan2 rintik namun tak mengganggu. Sebuah hari yg berkah dgn proses nikah yg lancar, dengan buncahan rasa syukur tak terkira.

Maka pantaslah jika hati ini sujud tersungkur pada Rabb sang penuntun hati..merenungkan berbagai hentakan serta sandungan dalam penantian panjang untuk menikah. Sy slalu bersyukur dan tidak akan pernah berhenti mengingat binar mata mereka yg mendengar ceritaku ketika itu. Sebuah kisah indah yg harus sy jemput dgn berbagai sabar dan tegar. Hingga sy slalu percaya, bahwa dalam langkah2 dhaif ini slalu ada Rabb. Dia-lah yg merangkai cerita indah untukku, senyap, secara diam2 penuh mengamati, agar dapat kukabarkan pada dunia bahwa Ar-Rahmaan slalu benar dengan jaminan-NYA.

3 responses to this post.

  1. indah ya deen…
    ^_^

    Reply

  2. Posted by Acculk on April 23, 2009 at 4:00 am

    Hmm…….nggak tau mau nulis apa.
    Kisahnya memang benar2 indah.

    oh iya, makasih sdh berkunjung ke blog sy meskipun mumet bacanya.

    Reply

  3. setuju ama acculk..
    benar2 kisah yang indah..🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s