Malu kala dipuji

Sapa yg tidak mengenal Kurt Cobain, ia adalah seorang penggebrak dunia musik pop kala itu. Sgala ketenaran sukses diraih, pujian2 pantas disandang olehnya, sebab kharismatiknya dalam berseni..menawannya dia di pentas musik. Namun demikian, sapa dinyana..pujian2 tersebut tak mampu meringankan beban untuk menjemput tenangnya jiwa. Ia berakhir dgn bunuh diri.. di dalam kubur, lagi2 lilin dan bunga pujian tidak mampu meringankan lidahnya saat berhadapan dgn pengadilan maha tinggi..

Marilyn Monroe, dgn sgala kemolekan, keseksian yg tiada tara, ia sanggup membius pria tangguh manapun..pirangnya yg mempesona menjadi dambaan wanita barat moderen hingga kini. Tapi sayang oh sayang, sgala puja puji tiada sanggup menjaganya dari pola hidup yg penuh dgn dahsyat fitnah dunia. Ia ditemukan tidak berdaya di rumahnya sndiri, dgn kondisi pil2 tidur bertaburan di ranjang.

”Barang siapa yg mencari kemuliaan dari bumi, niscaya langit menghinakannya, dan barang siapa yg mencari kemuliaan dari langit, niscaya bumi menghinakannya…”, Abu Al-Jauzy.

Pujian?, sapa yg tidak membumbung tinggi ketika puja puji disematkan kepadanya.

Hanya kecuali, bagi mereka yg memahami datangnya pujian berarti satu rahmat dari ALLAH karena telah menyembunyikan aib dari khayalak.

Menyadari bahwa tidak pernahlah pantas seorang dipuja sebagaimana pujian telah diberikan saudara kepadanya.

Ia merasa malu lagi tak sanggup dgn beban pujian itu.

Abu bakar pernah menangis kala pujian diberikan karena kebajikannya, gemetarlah tubuhnya.. “Ya ALLAH, jadikan hamba lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum hamba lantaran ucapan mereka dan ampuni hamba karena ketidaktahuan mereka“..

Dari pujian-lah, syetan memulai babak bermain…baginya pujian adalah tali jeratan yg ampuh dilemparkan ke leher seorang muslim untuk kemudian ditarik ke sana sini sesuka hatinya. Bukanlah syukur lantas malu lagi yg dihadirkan oleh sang hati, melainkan rasa berbangga tinggi. Mungkin niat awal semata untuk ALLAH, tapi tak sedikit berakhir dgn pongah karena ujian puja puji ini. Ia lupa dengan tekad awalnya, ia memaklumkan diri dgn sgala pujian yg datang karena merasa cukup layak karenanya. Ia tiada sanggup menahan diri ketika jabatan dan harta menggerayangi akal.

Ia diberi fasilitas mewah, ia masuk dalam sandiwara penuh senyuman dan pujian.. ia seperti yg dikatakan oleh RahimahumuLlah Ustadz Rachmat Abdullah, bahwa ujian muslim kala ini seperti monyet2 yg mudah dijatuhkan bukan karena angin topan, angin tornado melainkan karena sepoi2nya angin berhembus.

Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah pernah mengecam, “Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu”

Mudah2an kita termasuk golongan yg takut akan beban pujian yg melekat pada diri.

Sanggup menulikan telinga, mengabaikan pengakuan hati terhadap pujian yg baru sj didengarkan.

Wallahu’alam

@Depok,20 okt.. 10:51 pm, ditulis ketika beberapa komitmen sedang dalam ujian…

3 responses to this post.

  1. Ustadz rahmat Abdullah … seorang seniman kata yang kritis dan cerdas, kadang mengiris-iris dan menusuk hati dengan sebuah syair indah nan menawan.

    Semoga beliau senantiasa dirahmati Allah …

    Reply

  2. Inna alhamda lillah..
    Sesungguhnya pujian itu hanya untuk Allah.
    Maka siapa lagi yang berhak menyandang pujian selain Allah.

    Reply

  3. Hanya kecuali, bagi mereka yg memahami datangnya pujian berarti satu rahmat dari ALLAH karena telah menyembunyikan aib dari khayalak.

    hanya cukup memahami dan mengerti milik siapa kita ini

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s