Tentang “Pacaran” ?

”Mbak, bagaimana ini?, kader akhwatnya pada tumbang..!?, seorang lagi sedang ”akut vmj-nya”.. Sedih banget deh mbak..😦 ”

Sore itu, seorang adek ikhwan menyodorkan kesahnya pada sy. Sunggingan senyum sj yg bisa sy beri ketika itu, sementara juga sedang menghandle tugas2 kantor. Mungkin merasa tak bgtu digubris, dia pun mengakhiiri percakapan dgn meminta sy menulis soalan bertema ”PACARAN” di blog sy.

Akhi, roda dakwah sedang menuju kulminasinya, mestinya solusi utk hal2 spt ini telah kita rampungkan pada gerak tarbiyah fardiyah kita bersama..

Mungkin sekitar 10 tahun lalu, kita masih begitu sulitnya menerima hidayah ALLAH lantaran minim ilmu serta informasi kepada kita. Tapi sekarang?, bahkan anak TPA-pun tahu bgmn Islam memberi kedudukan utk soalan pacaran. Sy pikir, terlalu banyak buku, kajian, sindiran yg mengupas hal itu. Jadi mudah sj untuk melihat mana mereka yg pura2 tersumbat telinganya dan mana yg benar2 ingin menyumbat telinganya dari kebenaran itu. Tak perlu lagi-lah dibahas akh..

Mungkin sy belum layak menyoal problematika ini, mengingat diri yg juga sangatlah jauh dari kesempurnaan sebagai pengikut gerbong panjang da’wah ini. Namun cukuplah pesan Ustadz Salim A.Fillah yg mengatakan, jikalau smua menimbang2 kesalahan dan kekurangannya saja, niscaya tidak akan ada pernah lisan yg layak menasihati di bumi ini.

Perjalanan dakwah ini tidaklah bertabur bunga lagi harum. Tak pernah ada jaminan jumlah yg berangkat dengan yg tiba akan sama, selalu sj ada yg gugur. Jika kita ibaratkan perjalanan ini dengan kereta yg berjalan, penumpangnya pun akan beraneka ragam. Ada penumpang pemula, ada yg sekedar mengaku penumpang, ada yg memang penumpang tapi dengan persiapan seadanya, ada yg cmn mondar-mandir sj utk melihat2, ada jg yg gemar bersantai2 ria, ada pula mereka yg benar2 ber-azzam kuat serta ber-visi tajam terhadap tujuan kereta, dsb-nya. Tidak-lah sama. [Btw, kita penumpang yg mana nih? ^_^]

Ingatan sy-pun kembali ketika berada di kampus, begitu banyak pribadi2 yg sy kagumi, begitu dibaikkan oleh da’wah, dia membesarkan da’wah..dan da’wahpun membesarkannya.. namun nyatanya pilihan utk turun dari kereta-lah yg dipilihnya.. Betapa mulia Rasul yg telah mengingatkan bahwa seseorang mendapatkan apa yg diniatkannya. Ketika pribadi tidak mampu merekonstruksi niat di tiap kondisi, ia-pun harus rela terpontang panting oleh medan kereta yg membawanya.

Barisan ini tak akan pernah menjelma menjadi pasukan malaikat. Meski perjalanan panjang lagi meletihkan ini bertiti untuk menemukan kesempurnaan kebenaran. Tapi tetaplah kita adalah manusia2 sederhana yg dibekali dengan kekurangan2 untuk terus dibenahi. Slalu ada lubang2 menganga pada makhluk bernama manusia itu, demikian indah hingga ALLAH memerintahkan kita untuk terus berwasiat dalam sabar dan kebenaran untuk mengisinya.

Solusi sudah pasti wajib utk diciptakan, tapi hendaknya kita tanyakan pada diri..adakah tangan2 kita tlah benar2 berpegang pada saudara2 yg telah/kini berada dalam kebimbangannya?, dimana kita ketika mereka butuh pegangan?, setulus apa doa rabithah yg terlisankan di pagi dan sore hari? Ato jangan2 sgala kesibukan pada agenda membuat kita berpaling dari wajah2 mereka?, hingga ketika mereka benar2 tak berdaya..baru kita menyadari..dan dengan santai hanya berujar.. ”Ini sunnatullah, telah gugur seorang lagi”.

Wallahu’alam.

@Bekasi, 7:50 AM..ditulis sebagai otokritik skaligus utk seorang akhi yg lagi resah dengan thulaby sekolahnya, hmm.. afwan klo masih berkekurangan tulisannya, tp dengan ini jadi lunaskan?, hehehe. Btw, kok cuman kader akhwatnya aja y yg pada tumbang?, mmm, apa kabar nih dengan At-Taubah 71-nya?..🙂.

Tetaplah benderang dengan lenteramu, karena kelam gerak tidak dapat dihidupkan dengan redup semangat. Hanya nyala kesabaran, keikhlasan dan semangat juanglah yg akan mencerahkan ruang2 tersebut.

La tahzan akhi..antum kan ikhwan :p...


8 responses to this post.

  1. yah… cape dee..

    ngomongin beginian gak bakal ada habisnya kali ya..

    deen wrote : “terlalu banyak buku, kajian, sindiran yg mengupas hal itu. Jadi mudah sj untuk melihat mana mereka yg pura2 tersumbat telinganya dan mana yg benar2 ingin menyumbat telinganya dari kebenaran itu. Tak perlu lagi-lah dibahas akh.. ”

    bener banget.

    deen : eh eneng ummi, kemaren knp cettingnya g lanjut neng?.🙂

    Reply

  2. ukhti deen..
    kayaknya ane termasuk penupang pemula neh..
    mohon pencerahannya yah.. biar bs istiqomah..🙂

    good article.. ^_^

    deen : hmm, kok deen mulai sering baca n denger kata “pencerahan” y belakangan ini?😕, apa karena mulai sering mendung kli yak?😀, hehehe..
    K’antok, saling mencerahkan kykny lebih tepat.🙂

    Reply

  3. saya juga minta dicerahkan…
    xi2…..

    unga : klo gt, unga ngantri yaa..hehehe :p

    Reply

  4. “Tetaplah benderang dengan lenteramu, karena kelam gerak tidak dapat dihidupkan dengan redup semangat. Hanya nyala kesabaran, keikhlasan dan semangat juanglah yg akan mencerahkan ruang2 tersebut”

    duhhh jadi terharu bacanya…., tajeeemmm kena banget!

    deen : *kasi tisu buat rose of salsabila*🙂

    Reply

  5. Posted by penamedan on October 21, 2008 at 5:11 am

    waduh…semua ngomong soal begini…
    Ah, ini emang kajian sepanjang zaman, tak lekang dimakan waktu, tak hilang digerus usia…

    weleh..weleh…
    saya sarankan baca “Serial Cinta”-nya Ust. Anis Matta (Tarbawi Press) dan “Jalan Cinta Para Pejuang”-nya Salim A. Fillah…
    Ya, sebuah perspektif baru, untuk sebuah PENCERAHAN yang kita dambakan…

    Salam cinta dari Sumatera Utara,
    http://www.penamedan.wordpress.com
    http://www.mybinjai.worpress.com

    deen : jazakallah khoir pak, kebetulan 2 buku itu sedang sy baca juga..🙂. Sebuah PENCERAHAN dgn menghidupkan cinta ke dalam bentuk kata kerja. Move..move..en move..!

    Reply

  6. ehm…….
    emang g pernah abis….
    yang jelas kita dah tau hitam dan putih
    ga’ ada yang abu-abu…..special for this syndrome(ehm baca artikelmu! nasihat buat ana peribadi deen)
    semangat …………………………………………..t…t….t….t

    deen : semangat juga ukhti..!, makasih yah dah mampir🙂

    Reply

  7. Solusi sudah pasti wajib utk diciptakan, tapi hendaknya kita tanyakan pada diri..adakah tangan2 kita tlah benar2 berpegang pada saudara2 yg telah/kini berada dalam kebimbangannya?, dimana kita ketika mereka butuh pegangan?, setulus apa doa rabithah yg terlisankan di pagi dan sore hari? Ato jangan2 sgala kesibukan pada agenda membuat kita berpaling dari wajah2 mereka?, hingga ketika mereka benar2 tak berdaya..baru kita menyadari..dan dengan santai hanya berujar.. ”Ini sunnatullah, telah gugur seorang lagi”.

    nurul suka ni…..tapi kemana persaudaraan itu yah…..kemurnian hakikat do’a rabitha …..?

    deen : ^_^

    Reply

  8. tulisannya sangat mencerahkan… syukron ya mbak dan salam kenal ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s