Siap2 kuliah sambi kerja

Belakangan ini emang sudah sulit menemukan waktu yg baik untuk bisa menulis atau sekedar mencatat. Nampaknya target tahun ini untuk lebih aktif menulis bakal sulit teraih karena harus mempersiapkan target lainnya, salah satunya yakni kuliah lagi.

Akhirnya setelah 2 hari berjalan kaki, menantang matahari, beriringan dengan debu, sesekali dinaugin oleh awan panas (hiperbolis lagi deh), sy berhasil dapetin kosan di bilangan Margonda Raya, dekat kampus Gunadarma. Relatif murah menurut sy, 450ribu perbulan, luas sekitar 5×4 meter, kamar mandi dalam.

Bapak kosannya baik pula, seiman, tegas dengan aturan bahwasanya..dilarang cowok naik ke kamar kosan putri, semakin berkesan saat beliau dgn nada tegas pada sy untuk melarang membawa teman co’ nae ke atas. Sy ulangi, dgn nada yg bener2 tegas.

Karena tekanan suaranya tersebut, sy langsung mendaulat diri untuk menjadi anak kosannya. Makin galak makin keren, pikir sy, hehehe. Apalagi dgn itu sy bisa tenang bahwa telah menjalankan nasihat Rasul untuk mengenali lingkungan tempat tinggal sebelum menempatinya.

Jadwal kuliah juga sudah keluar. Rata-rata mulai jam 19:00, tampaknya harus lebih tangguh lagi untuk berjibaku meraih waktu lebih awal. Tak mantep rasanya, seorang deen yg dulu pantang telat..maka sekarang harus mencatat masa kuliah dgn sering telat. *pantang telat?, iya getto? :p*

Sudah terbayang, bagemana crowdednya isi kepala nanti, dan bagemana jasad dan pikir harus mampu ditempa oleh 2 hal. Kuliah dan kerja. Mungkin tidak separah jika sy bicara, sy kini sedang ada di Bandung atau di Makassar. Tapi ini di Jakarta, hal2 yg diluar jangkauan kita bisa menjadi hal yg terus berulang. Lalu lintas yg tidak bisa diprediksi. Macet yg sangat banyak merampas hak kita pada hal yg sangat berharga yakni ; waktu.

Karenanya, sejak awal..sy berazzam, bahwa 2 hal ini harus bisa beriring dgn baik. 1 saja yg tidak proporsional asupannya, maka sangat tidak amanah-lah sy . Sy harus kerja untuk bisa kuliah. Dan sy harus kuliah, karena ini sebuah pilihan. ALLAH tidak pernah menciptakan 2 kebaikan yg saling bertentangan. Jadi meski akan ada friksi2 di dalamnya, jelas tak boleh ada pertikaian diantara 2 hal tersebut. Kecuali sy harus akui, sy tak cukup tangguh utk 2 hal itu.

Kalopun ada yg sy risaukan, yakni keluarga. Mendampingi dgn adanya diri dan tiada, jelas akan berbeda outputannya. Sy mungkin aktif di luar rumah, bisa di kerjaan, gape dalam kuliah..tapi klo keluarga terabaikan, itu sama sj menipu diri. Menunda kerja di luar rumah, untuk sekedar mengobrol dgn adik2, bantu2 ortu di rumah, bagi sy sebagai sebuah pertanggung-jawaban besar baik sebagai hamba dan anak. Sy tentu tidak berharap menjadi seperti para Abi yg ditegor oleh Neno Warisman di filem Sang Murobbi. Karenanya harus ada formula balancing yg harus segera sy temukan rumusnya (bahasana sok dkerenin) …tampak sukar sih..pfiuh

Man Jadda wa jadda. Barang siapa bersungguh2 dia akan mendapatkan.

Doakan sj sobatz…:)


2 responses to this post.

  1. Posted by Adink on August 22, 2008 at 2:14 am

    hmm..
    Man jadda wa jaad di..
    *sigh*

    Reply

  2. Terjadi juga di diriku . bekerja + kuliah .. ternyata, begini rasanya🙂

    Diawal-awal….. merasa megap-magap, ngos-ngosan… sekarang, semakin megap-megap, makin nambah ngos-ngosannya …🙂

    Tapi ya, dijalani saja lah Deen, semampunya, dan tetap berprinsip : lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, sudah cukup dan hasilnya serahkan pada Allah saja mau memberikan nilai berapa

    Tetap semangat ya Bu🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s