Berlombalah..

Suatu hari seorang anak baru saja dihadiahi seekor kura-kura oleh ibunya. Sebagai teman bermain, kata Ibunya. Kura-kura ini berukuran kecil, tidak lebih besar dari setelapak tangan si anak. Mungkin justru karena kecilnya si anak menjadi gemar membawanya kemana-kemana.

Pada kesempatan bermain, si anak memberi teman bermain bagi kura-kura. Sebuah mobil-mobilan, yang sekali gesek rodanya mampu berlari kencang. Si anak tiba-tiba teringat kisah kura-kura dan kancil, dimana dalam cerita terjadi perlombaan lari antara kura-kura dan kancil. Mengingat kancil yang mustahil dibelikan oleh Ibu, maka ia menggantinya dengan mobil tersebut. Dia menarik garis start lalu mengambil ancang-ancang untuk 2 peserta lombanya, kura-kura dan mobil. Tanpa sengaja, sang ibu lewat, bertanya :

”Mana mungkin kura-kura bisa mengalahkan mobilmu dek?. Dia tidak akan mampu.”

”Dia tidak boleh terus-terusan di kandangnya yang penuh dengan air dan makanan Bu. Dia hidup dan harus terus berlomba. Bagaimana-pun saingannya..”

Hidup adalah arena kompetisisi. Mereka yang tidak memiliki jiwa berlomba sesungguhnya telah mati dalam nafas yang sia-sia. Bagi seorang muslim, dunia adalah ajang berkompetisi dalam meraih tiap jengkal ridho Tuhannya. Fastakbiqul Akhirat, tidak ada sedikitpun kebaikan di bumi ini yang tidak dikejar. Semua perlu daya upaya, karena hidup bukan bangku menunggu dengan berpangku tangan.

Saat Rasul menanyakan harta apa saja yang hendak dikorbankan pada jalan kemuliaan dakwah, semua para sahabat berlomba2 bersedekah dengan kemampuan tertingginya. Khalifah Umar bin Khattab pun tidak mau kalah dan hendak menyumbang tanah kepunyaannya, saat itu Abu Bakar Ash-Shiddiq menandingi pemberian Umar Bin Khattab dengan menyumbang seluruh hartanya tanpa sisa, sedang istri dan anaknya cukup ALLAH dan Rasul sebagai milik mereka. Kebaikan diperebutkan, tak ubahnya seperti arena pelelangan.

Tetap berjiwa kompetisi dalam kondisi apapun, karena yakin..ketika ada yang telah belajar duduk, di saat itu juga sudah ada yg bisa merangkak lalu berjalan, hingga akhirnya bisa berlari kencang. Pasrah adalah penyakit kronis yang harus diagnosa lalu disembuhkan segera mungkin, karena ia menggerogoti jiwa pemenang seseorang. Kita semua berjiwa luar biasa, mereka yang tidak luar biasa karena gagal menjadikan dirinya luar biasa, itu pilihan mereka. Dan itulah prasangka yg ia serahkan pada Tuhannya.

Meski dalam kungkungan tempurung di pundak, pendeknya kaki melangkah, tetaplah terus berlomba. Beramal dan berbuat kebajikan bagi kebaikan hidup. Sungguh buruk diri, ketika kita tak mampu menyuguhkan perlombaan yang indah bagi ALLAH, Rasul dan orang-orang mukmin yang terus mengawasi kerja-kerja kita.

Wallahu ’alam bis showab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s