Telaga bening

Mata indah itu melekat di pandangan. Sesekali aku menoleh dan di situ lagi ku lihat mata jernih itu masih memandang. Kedua alis yang hampir bergumul itu semakin indah kuperhatikan. Tebal serta hitam. Ku sampirkan senyum ketika pandangan kami bertemu. Yah, mata itu yg diam2 ku puja keindahannya.

Selang beberapa saat, dia menggeser duduknya bersisian dgn ku. Mata indah itu ku lekati dalam-dalam. Seperti telaga yg masih bening, polos nir polusi. Hanya beberapa jejak di sana, dan ku tahu...belum ada jejakku di sana, karena perkenalan kami baru bbrp pekan. Hanya dalam agenda majelis indah pekanan, ku temui mata indah itu. Kami menggamit senyum satu sama lain..

”Kak, sebentar malam kan malam minggu, tidak ada acara bareng gandengan? ”, pijar bola matanya semakin menawan. Pertanyaan polos itu baru sj keluar dari lisan gadis 13 tahun, yg masih duduk di kelas 1 SMP.

”Ada, kakak ada acara sebentar malam dengan adik2 kakak, lalu bergandengan dgn bantal kesayangan, hehehe..”.

Ini kali pertama kami bercakap berdua, hanya berdua sj. Kami bersandar di dinding putih masjid sekolah, melepas cerita jenaka yg ku awas2i tiap penggal katanya. Mata indah dgn kelentikan bulu matanya, ku yakini mampu menarik puja sapapun. Tak heran bila banyak cerita yg dikabarkan.

Tak lama, kedua temannya dgn mata yg tak kalah indah bergabung dgn kami. Dan sepanjang mata terhampar keindahan kepolosan itu. Mata yg pandai berjenaka dan bercerita, mata yg terus terjaga dalam ketidak harmonisasian tanya yg secara sporadis menyerang mereka, mata yg linglung serta nakal, mata yg hanya ingin tahu gerangan ada apa di balik bayang bulan terang. Itu saja, kata mereka.

Aku kembali menatap hamparan jendela hati itu. Lalu kami saling bertukar nomor hp…

”Kak, nanti aku boleh curhatan ma kakak yah, aku takut ma orang tua-ku klo obrolin soal pribadi2 gtu..Yah?”

Ada rasa gemuruh marah dgn dunia ini, ia terus mengejar kami, tapi enggan beriringan di akhir nanti. Berat dada tapi dagu ku anggukkan, lalu mata itu semakin berpijar. Smoga gamit cahaya mata kami, bersidekap dalam bingkai wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan) . Saling meneguhkan sikap. Amin.

Love you Adek-adekku..Uhibbukum Fillah…🙂


2 responses to this post.

  1. ”Kak, nanti aku boleh curhatan ma kakak yah, aku takut ma orang tua-ku klo obrolin soal pribadi2 gtu..Yah?”

    sepertinya sekarang ini anak-anak seumuran saya memang sedikit mengalami kesulitan untuk menceritakan masalah pribadi kepada orang tua.

    Reply

  2. saya hanya bisa mendoakan semoga semuanya berjalan sesuai harapan…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s