Duka

Terlalu sering kita mendengar musibah dan lagi2 musibah. Mungkin karena terlalu sering peristiwa itu terjadi, lantas membuat kepekaan kita mati. Telinga perlahan rukun dengan kata ”korban jiwa” dan ”kepedihan rakyat”.

Musibah tidak lagi menjadi penanda, tak lagi mengembalikan manusia kepada fitrahnya untuk tafakur. Musibah dianggap alasan alam untuk menunjukkan sebab-akibat belaka.😦 .

Duh, kapan kami baru benar2 belajar..?


*Tepat sesaat mendengar berita duka Daeng Besse yg meninggal lantaran kelaparan di kampung halaman sana, Makassar.

2 responses to this post.

  1. Daeng Basse yang malang itu, meninggal dalam kondisi tak makan selama tiga hari. Asupan terakhir yang masuk ke tenggorokannya hanyalah sepiring bubur. Dan tiga hari kemudian, pada 29 Februari 2008, Daeng Basse wafat. Bersamanya ke alam baka, turut serta jabang bayi yang sedang dikandungnya tujuh bulan dan seorang anaknya Bahir yang masih bocah lima tahun.

    Kedua manusia malang itu diliangkan dalam satu lubang, di tanah garapan orangtuanya di Bantaeng. Adalah Daeng Basri, suami pemabuk yang lebih mencintai ballo (minuman keras khas Makassar) daripada istri dan anaknya itu, membawanya pulang ke tanah Bantaeng. Walikota Aco menutup kisah itu dengan ungkapan sederhana:

    Persoalan mati itu persoalan ajal!

    Reply

  2. liat di koran hari ini, ada iklan majalah yang sampulnya bertuliskan :

    “Survey membuktikan : Orang Indonesia menderita tapi bahagia”

    mungkin maksudnya, orang Indonesia ada yang menderita dan juga ada yang bahagia…

    only God knows why…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s