Masuk SMP karena perlombaan

Di tengah agenda besar di kota Bekasi kemarin. Sy mendapat lahan amal untuk terjun langsung bersama kawan2. Di hari H-nya, sy mendapat saudara baru. Ia lebih muda 2 tahun dari sy. Ternyata sy telah mengenalnya dalam suatu kegiatan dimana dia yg menjadi korlap. Sederhana, optimis, santun.. 3 karakter yg menurut sy pantas untuknya.

Kemarin, sejak pukul 7 pagi hingga 12 siang, bersamanya menangani urusan logistik untuk beberapa tempat. Bukan urusan amanah tersebut yg akan sy ceritakan. Kali ini untuk sekian kali sy belajar lagi dari orang2 sederhana. Mereka yg terus maju dan tetap tersenyum melangkah. Bahwa tak ada alasan untuk kuatir dikala mantap dengan jaminanNYA. Sempat, bertamu di rumah nan sederhananya, sy ketahui bahwa sejak kecil Bunda telah meninggalkannya tuk selamanya, pun sama dengan sy sebagai anak pertama. Berbakti pada seorang Ayah yg pekerjaannya sebagai pengaman desa dan guru silat, tak membuatnya sering mengeluh karena pendidikan yg terengkuh sesanggupnya saja. Tak ada guna memaksa sang Bapak, dimana pendidikan terasa begitu mahal baginya dan 2 adik lainnya. Ketika kesempitan itu mengekang, hebatnya ia malah bebas dengan sayap2 untuk mencari segala peluang. Perlombaan tilawatil, resume, tahfidz serta perlombaan lainnya diikuti, pada awalnya semata karena mengejar uang untuk melanjutkan sekolah.

“Mudah2an ALLAH mengampuni sy mbak, karena perlombaan itu rata2 memang sy niatkan karena mengejar uang bukan yg lain.”, ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Sy ingin terus sekolah mbak..”, lanjutnya

Siang itu, sembari mengecek beberapa file yg sy bawa, kami banyak bicara tentangnya. Di bawah rindang pohon, duduk pada ayunan yang saling berhadapan, sesekali sy pandangi wajah sederhananya. Sesosok guru kehidupan sedang mengajar. Sy tertegun dan memilih banyak mendengar. Sangat ceroboh, jika sy mengeluarkan statemen yg membuatnya terusik lantas berhenti bercerita.

Lagi ia kembali bercerita hingga akhirnya seorang lelaki baik melihat potensi dirinya dalam berprestasi. Ia pun diangkat menjadi seorang anak, SMP-nya teraih karena perlombaan2, SMA dan kuliahnya ditempuh lewat uluran tangan baik sang Bapak angkat. Bapak angkatnya tak lain adalah korwil yg sy kenal sehari sebelumnya, itu juga dengan kesan pertama yg kurang “manis”, lantaran harus ngotot akibat suatu situasi. Pfiuh. Kembali sy menyimak cerita yg terus terlantun dari bibirnya. Sy mendengar baik-baik bagaimana ia dulu memperjuangkan beasiswa ke Kuwait, namun karena destiny yg belum mengijinkan maka asa itu sejenak tertunda. Sy mengasumsi penundaan, karena bukan tak mungkin gadis di hadapan sy memang akan ke sana suatu hari nanti.

Semangat belajar untuk terus mencari pendidikan terus disirami dengan minyak tanah niat bersih untuk mencari ilmu. Adanya tekad mantap melangkah dalam terang berilmu. Kita hanya butuh mimpi dan niat untuk mewujudkannya.

Rumahnya boleh hanya 3 petak, tapi hatinya seluas langit. Sebelum kembali bertugas, sy sempatkan tidur di ruang tamunya, meski tidur di lantai (karena memang tak ada kursi di sana) entah kenapa sy merasa begitu nyenyak. Setelah lelap, saraf2 yg lelah kembali segar semula. Alhamdulillah, karena charge ini, amanah hingga malam dpt tertunaikan dengan lancar. Sebagai tamu rumah, sy merasa sangat dimuliakannya. Bukan tak mungkin dalam rumah ini, para malaikat senantiasa meniupkan angin sejuk ke dalamnya, dalam tiupan tersemat doa agar keimanan terus kukuh menaklukkan segala kekuatiran diri.

Sewaktu meninggalkan rumahnya -karena harus terpisah amanah berikut yg berbeda- setelah jalinan erat tangan dan dekap, sy berterima kasih dan keluar dari rumah kayu sejuknya, membawa artikel baru yg insyaALLAH akan sy tempelkan dalam kliping kehidupan. Jika dalam kasat mata sy, meski dalam kesederhanaan yg amat, dia begitu tekun merajut mimpi, menyulam dengan benang semangat lalu merentang kain harapannya dengan mantap. Lalu kenapa masih sj ada yg merelakan diri terkungkung kekuatiran serta pesimis ?.

6 responses to this post.

  1. Berbagi Kasih Berbagi Buku, Lomba Puisi Berantai dan Pantun semuanya lagi diadakan oleh AM. terima tantangan yuk….! Klik http://angingmammiri.org

    Reply

  2. Wew… Kbanyakan kita yg udah sekolah malah gak memperjuangkannya lebih optimal.

    Memang sepertinya, ada kesan kurang mensyukuri nikmat…

    Reply

  3. sama yang nomer tiga…🙂

    Reply

  4. saya kok malah kagum sama mbak deen-nya ketimbang si gadis yg sedang diceritakan ya?

    somehow, mb deen bisa membahasakan sesuatu yang sebenarnya hampir mendekati batas atas normalitas, menjadi sesuatu yang lebih daripada itu.

    kemampuan langka loh mb.. still, saya tidak bermaksud ‘mengecilkan’ si gadis tadi..

    Reply

  5. Subhanallah…
    Ketika koneksi internet sedang buruk-buruknya dan kejengkelan yang amat sangat dikarenakan tidak satupun situs yang dapat dibuka, malah situs ini yang mudah dibuka dan mendapatkan beribu luapan emosi di kedalaman hati yang membuat diri ini menjadi malu semalu malunya.

    Memang ALLAH itu memforsikan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hadiah-hadiah bagi siapa yang berhasil dalam ujiannya.

    Perlu Muhashabah diri yang terus-menerus agar diri ini bisa kembali bersyukur akan pemberian-NYA.

    Jazakillah khairan katsiran atas bantuannya untuk menegur ana secara tidak langsung ukh.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s