Tak sepadan

Pernah nonton salah satu sinetron religius, dalam cerita dikisahkan seorang istri yang didampingi oleh seorang suami yang sungguh tak sepadan dengan keshalihan si istri, suami ini demen judi, hura-hura, mabok, pokoknya ampir smua keji ada dalam badannya. Taulah klo sinetron, yang baek bakal baeeeek banget, yang jahat bakal jaaahaaaat banget. Katanya sih potret hidup sehari2.. Hmm..

Saat nonton itu, sy pernah berpikir, alangkah sialnya nasib si istri berjodohkan seorang suami yg demikian, bukankah ALLAH maha adil. Kok bisa2nya ngasih suami kyk model gtu sih?.. Astagfirullah ’adzim.

Manusia emang paling mudah menghakimi, tanpa mencari tau ada apa dari kemauanNYA itu.

Tapi ini bener2 soalan yg sering ditanyakan oleh banyak orang. Bagaimana klo seorang yang baik tidak berjodohkan dengan yang baik?. Apakah jaminan An-Nuur 26 masih berlaku??..

Sebagai makhluk dhaif, jika dihadapkan dengan ayat2NYA hendaknya tak terbesit sedikit pun rasa ragu apalagi cela dalam hatinya.

Bagaimana kita bisa mengukur keistemewaan seseorang dgn melihatnya belaka?, apakah dari rajin ibadahnya?, apakah dari atribut yang dipakenya?, apakah dari banyak sujudnya?. dari banyak sedekahnya?

Bisa saja, di mata kita ini seseorang begitu baik, tapi di mataNYA justru tidak demikian, dan sebaliknya.. (Al-Baqarah:216)

Ok, bagaimana jika memang ada yang berperangai buruk, keji dan hampir tak ada kebaikan, lantas kenapa ALLAH menjodohkannya dengan akhlak yang begitu baik.

Kita sering lupa, bahwa apa2 yang ditentukan oleh ALLAH setelah ikhtiar, doa dan tawakkal adalah terbaik untuk diri. Bisa saja di balik perangai yang buruk itu akan berganti kebaikan yang melebihi pasangannya, melalui sejumlah usaha yang dilakukan oleh si baik dengan melihatnya sebagai ladang amal dalam memberi kebaikan. Rejekinya, karena ladangnya itu adalah makhluk yang ditemuinya tiap hari. Sedang untuk si jahat ini rejeki tanda sayang ALLAH padanya, ALLAH telah memilihnya untuk diberi nur karena tlah menjodohkan pada seorang yang akan mengenalkannya lebih baik pada DIA, sang khalik. Simbolik mutualisme pun terjalin dalam perjanjian kuat karena cintaNYA.

Sering kali kita berpikir bahwa nikah adalah tempat untuk memetik manfaat, kita berusaha shalih/shalihah dengan tujuan biar dapet shalihah/shalih juga, kita pengen buktiin kebenaran An-Nuur 26 tersebut. Ayat2 yang laenpun seolah2 mengabur di pikir, karena masalahnya kita sudah terlanjur membayangkan yang indah2 bersama pasangan, si dia yang begitu rupawan di hati. Seperti kita melihat diri, yang sulit sekali mencari kelemahan sendiri.

Jadi harus pasrah dengan tak perlu mengejar yang shalih?, mendamba yang baik?, jelas tidak..karena seperti rejeki, jodoh pun kita harapkan adalah yang terbaik, menyiapkan keturunan yang baik awalnya dengan meraih jodoh yang baik dengan cara yang baik pula. Klo perlu abis-abisan meraih jodoh yang baik dengan cara yg baik pula, sambil giat memperbaiki diri karenaNYA. Berpegang terus pada jaminan2NYA.

Namun, jika ternyata pada akhir meraih itu kita dihadapkan pada seseorang yang kita nilai tak sebaik dengan diri, padahal ikhtiar, doa dan tawakkal begitu rupa, maka langkah paling bijak adalah berlapang dada, inilah jodoh kita, inilah yang ALLAH kehendaki atas diri. Tentu ada maksud di balik smua inginNYA. Berprasangka baik2 padaNYA.

Ada yang menimpali, bagaimana jika si baik tak pula menemukan kebaikan pada diri pasangan hingga akhir hayatnya. Padahal ikhtiarnya untuk mengajak si pasangan berubah ke arah baik sudah mati-matian dilakuinnya. ALLAH takkan pernah menyia2kan kebaikan seberat zarrahpun. Bukankah di syurga ada bidadari-bidadari yang menunggu, ada rumah indah yang disiapkan atas ketundukan kita padaNYA.

An-Nuur:26 akan tetap dengan jaminannya, mata hina kitalah yang kadang mengaburkan hati atas kebenaran2NYA.

Wallahu’alam. Smoga ALLAH mengampuni sy jika khilaf dalam mentadabburi kalimah2NYA.. Astagfirullahul ’Adzim..

*ditulis dalam kerangka muhasabah pada diri skaligus menjawab pertanyaan tmn via komen kemaren..

7 responses to this post.

  1. makasih Deen..akhirnya dilunasi jg hutang yang ini. sebuah pandangan yang bisa mencerahkan pikiran.

    makasih juga buat ‘komporan’-nya selama ini.

    yang pasti, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. toh hidup di dunia ini kan hanya sebagai ujian agar ketahuan mana manusia yang paling baik amalnya. jadi inget sebuah ayat berikut : “Sesungguhnya apa saja yang diciptakan di atas bumi adalah sebagai perhiasan saja, untuk menguji siapa di antar manusia yang paling baik amalnya”

    pernikahan juga ladang amal, jika setiap manusia menyadarinya.

    comment ditulis sambil merenungi setiap langkah yang tlah terlalui untuk menuju sebuah peristiwa besar bernama p.e.r.n.i.k.a.h.a.n

    deen : intinya Goen..persiapkan saja, luruskan niat..luruskan niat..luruskan niat….🙂

    Reply

  2. Bisa jadi sesuatu yang tidak baik menurut kita tapi baik bagi Allah. Begitupun sebaliknya. Sesungguhnya hanya kepada Allahlah tempat kita menyerahkan segala urusan.

    Deen, yang manis (walaupun blum pernah liat), tulisannya bikin hati saya tergugah. Karena peristiwa tersebut bisa terkena kepada siapa saja. Saya mencoba bermuhasabbah terhadap diri sendiri dan kesimpulan sekarang kejadian itu bisa jadi adalah ujian bagi kita untuk lebih meningkatkan iman.

    deen : Deen manis? kok tau pak?😀, Alhamdulillah jika ada manfaat dari apa yg sy tulis🙂. Ditunggu masukannya pak..

    Reply

  3. Deennn…! *teriak2 kegirangan

    akhirnya ku dpt mi rumahmu deen.😀

    keeping touch yach.:mrgreen:

    deen : inaaaa, wih akhirny dirimuh yang mendapatkankuh.. :p, sudah mi gang ku link blogmu di rumah ku ini😉

    Reply

  4. deen…
    jazaakillah utk postingannya yg ini, spt spesial sekali.hehehe…msh syndrome ‘n ragu, tp mohon doanya..
    ehmm…ehmm…kmu gmn? (bertanduk*mode on) hehehe…

    deen : waiyyaki k, met mempersiapkan yak, hmm, tentu tidak untuk masa itu saja, tapi semata karena kecintaan kita karenaNYA, sama2 meluruskan niat, karena pernikahan ialah suatu perjalanan yang panjang🙂 . Hmm, deen gmn?.. yah samalah ma k’sultra :p

    Reply

  5. Saya yakin tak ada satupun yang kebetulan di dunia ini. Semuanya pasti dalam keadaan yang tepat, dalam jumlah yang tepat, disaat yang tepat, pada orang yang tepat.

    Mungkin banyak yang lebih baik tapi yang cocok hanya satu.
    Allah nggak mungkin salah. Iya kan?

    What a nice post, ukhti.

    Salam kenal.

    deen : sepakat k, sangat sepakat!🙂

    Reply

  6. intinya, tak kan tertukar rezeki….

    Reply

  7. Posted by kiminoegao on July 16, 2009 at 7:22 am

    salam ziarah..
    menemui blog ini secara kebetulan.
    MasyaAllah hebat pengisiaannya.Terima kasih atas perkongsian..

    Ana warganegara Malaysia di Jepun.Silakan ziarah ke blog ana..
    🙂
    salamun alaik

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s