Bukan andil kita

Smakin menanjak usia, sy sering dihadapi oleh mereka yang sederhana, yang bersahaja, suaranya tak selantang yang sering terdengar, mereka hanya orang-orang kecil yang memaksimalkan diri dalam minimal. Mereka menggunakan seluruh iman dalam syukur dan sabar. Tertatih-tatih dalam beramal seperti terbata-batanya makhluk membaca ayat-ayatNYA, dan karenanya mereka diberi amalan 2 kali lipat dari lidah yang lancar menyenandungkan surat-surat cintaNYA. 

Kualitas diri mereka melambung di mata Allah karena keikhlasan dalam bertindak tanpa berharap suatu prestise apapun. Wallahu’Alam.

Seperti tukang ojek yang detik demi detiknya berzikir, memperhatikan roda-rodanya agar tidak tersandung bebatuan, diniatkan agar si penumpang di belakang nyaman.

Seperti para pembantu yang dalam tiap sholatnya mendoakan majikannya agar senantiasa diberi kebaikan, ketulusan mengalir dalam munajat, setiap bantuan tangannya adalah kecintaan dan ketaatan pada majikan.

Seperti tangan-tangan yang menengadah di jembatan, tangan tak diatas pun tak mengapa, jika tangan di bawah itu membawa mereka pada kesabaran dan keridhoan padaNYA. Sambil terus berdoa, suatu saat Allah akan menaikkan derajat mereka.

Ketulusan, keikhlasan, kesederhanaan yang diterima karena khusnudzon padaNYA. 

Takwa tak bisa di tebak-tebak oleh kita yg jauh dari sempurna ini. Tak ada ukuran yang pasti untuk menilai manfaat seseorang. Karena hanya DIA, hanya Rabb yang Maha mengetahui rahasia hati, bagaimana keikhlasan itu bertindak. 

Tak ada andil dalam diri untuk menilai kemuliaan seseorang, skalipun kita berdiri dengan berbagai atribut kemuliaan. Karena hanya DIA, hanya Rabb yang Maha mulia, yang pantas menilai mulia yang benar-benar bersih. Dan takkan ada pengaruhnya seseorang di mataNYA sekalipun pujian dan hinaan terlontar dari lidah siapapun. 

Tak ada hak untuk mengukur kondisi iman seseorang dgn frontal, sekalipun dia begitu paham dengan berbagai karakter diri. Karena iman, adalah urusan manusia denganNYA, cukup DIA yang menilai kesejatian diri.

Sangat tak pantas untuk menilai berharga atau tidaknya seseorang, karena bisa jadi justru di depanNYA kita ini sungguh hina, buah dari menilai rendah saudara kita, mencemooh kawan karena merasa sudah piawai dalam berbuat, menghakimi iman dengan berasumsi dangkal.

Tiap amalanpun menjelma seperti buih, terbang tak bernilai di sisiNYA. 

Dan sangat sia-sia waktu ini jika dipakai untuk mengukur kemuliaan diri depanNYA, karena betapapun kita mengukur, tak bertambah mulia itu, justru semakin kerdil di depanNYA. Cukuplah sibuk mencari kekurangan diri, mengevaluasi dan memperbaikinya. Cukup itu.

Wallahu’alam

2 responses to this post.

  1. iya, tak ada org yg mampu dan patut menilai itu smua kecuali DIA, krn ke-Maha Tahuan-Nya.tapi masih sj bnyk org yg slalu mengklaim dirinya mulia, pdhl hal itu mengikis sdikit2 demi sdikit kemuliaan itu.smoga kita tmasuk org2 yg slalu menghargai sesama, seburuk apapun itu akan ada kebaikan meski hanya secuil

    Reply

  2. kata Aa’ Gym…nikah adalah pintu gerbang menuju ladang amalan,

    kata ku Nikah gimana rasanya yah…jadi pengen ..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s