Bicara soal Feminisme

karir_wanita.jpg

Masalah feminisme belakangan ini menjadi wacana sendiri bagi sy, mendadak tertarik banget dgn kondisi perempuan di jaman ini. Berkaca pada diri, yg kini menjadi seorang pekerja yg bergulat di dunia mayoritas Adam, membuat sy semakin mawas.. Ada sedikit riak2 takut yg timbul dalam hati, khawatir dan cemas. Akankah sy terperosok pada keterlenaan untuk mengaktualisasi potensi diri, lantas melupakan sisi ke’ibu’an sy..

Sungguh, ada rasa cemas, saat para perempuan rame meninggalkan rumahnya lalu mengisi kursi2 pekantoran. Bukan soal mereka mampu membuktikan diri di dunia kerja, melainkan bagaimana kondisi rumah-nya sebagai ”workcentre”mereka.

Berangkat dari keinginan untuk melawan ketertindasan perempuan di wilayah manapun, sekarang perempuan sudah menemukan lahan nyaman dalam berkarya. Tak lagi dikatakan makhluk lemah, perempuan bener2 sdh menemukan arti ’emansipasi’ itu. Bukan hal yg asing lagi, saat atasan ialah perempuan dan bawahannya adalah sekelompok lelaki. Negeri ini memang sudah membuka lebar2 wilayah perempuan untuk beraktualisasi diri. Walo masih terdengar, kesenjangan gender di beberapa sudut. Tapi heyy, perempuan dan lelaki bukankah sudah berbeda, keduanya sudah dilengkapi ”perlengkapan” untuk saling melengkapi. Apa jadinya jika keduanya meminta posisi  yg sama..?

Sy juga bingung pada tmn2 yg memperjuangkan feminisme itu, mereka lantang meminta hak di setiap lini, tapi juga bungkam menyoal sodara2nya yg terpaksa menjual kemuliaannya sebagai perempuan. Mereka sibuk bicara di forum membahas sentimen2 para lelaki di dunia kerja, tapi sama sekali tak membahas bagaimana nasib2 anak bangsa yg juga sedang sibuk dengan dunia2 bejat, mengemis kasih tidak pada tempatnya lagi.

Betapa banyak anak perempuan yg kini jika ditanyakan ingin jadi apa besar nanti, nyaris tak ada lagi yg menjawab ingin menjadi ”istri dan ibu yang baik”. Ideologi individualisme dari barat emang sudah mewabah bangsa ini.

Menjadi manfaat bagi sesama ialah harapan setiap orang, mengaktualisasikan diri adalah asa2 yg tak boleh ditampik. Tapi terlalu semangat, hingga melupakan wilayah masing2, itu yg perlu kita cermati.

Tak ada soal melebarkan sayap hingga membentang negeri orang, tapi apakah negeri sendiri sudah terteduh karenanya?.

Selamat berkarya kawan, sungguh indah menjadi perempuan bukan?. Terlahir dengan sifat ibu ter ”built-up” di diri, kita juga berdaya sebagai partner kaum adam dalam hadapi globalisasi sekarang. Dan yg terkeren…😉, dari perempuan-lah terlahir peradaban itu.. Terpancang tiang negara awalnya dari tangan2 perempuan..

9 responses to this post.

  1. Terpancang tiang negara awalnya dari tangan2 perempuan..

    saya suka kata terakhir ini….

    Reply

  2. IMO .. orang2 yang menanggapi existensi Feminisme itu sendiri malah kayaknya yang membuat si Feminisme ini makin exis..

    kayak misalnya ada orang2 yang saking anti rasis , sampe gampang tersinggung klo ngeliat semuanya dari “bisa di anggep rasis ato enggak”.. padahal pandangan orang kan beda2.. belum tentu juga orang yang di bela merasa tersinggung ..hi3..

    klo gue liat di sekitar gue, kayaknya balance aja tuh..temen2 perempuan gue bisa ngimbangin jadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga yang baik..

    just keep it balance..😀

    Reply

  3. @daeng Rusle : Hidup perempuaaannn..!!! hehehe

    @Chie : mengutip : orang2 yang menanggapi existensi Feminisme itu sendiri malah kayaknya yang membuat si Feminisme ini makin exis..
    -> hmm, bs jd…tapi jika tak disadari eksistensinya bs jd kita tak menyadari klo terseret didalamnya kan?

    mengutip : belum tentu juga orang yang di bela merasa tersinggung ..hi3..
    -> hehehe, klo tersinggung ke-GR-an namanya..

    Setuju, emg kudu balance…😉

    Reply

  4. wah…

    knapa ya cman feminisme saja…??

    maskulinisme ada gak ya…??😛

    Reply

  5. Nah itu tadi klo udah mulai terjerumus ya just try to keep it balance😀

    Reply

  6. @K’Nawir : maskulinisme ?..bs jadi sih akan ada, saat para lelaki ngotot pengen di wilayah perempuan jg..Hanya sajaaaa, apa iya ada lelaki yg kyk gini ?..😛

    @Chie : Iya2..intinya balance kan?.. Hidup BALANCE..!! ;;)

    Reply

  7. Posted by Perempuan on September 1, 2007 at 1:35 am

    Saya bangga dilahirkan sebagai perempuan, dengan penuh keunikan tersendiri…

    Reply

  8. saya kira esensi Feminisme adalah “memanusiakan wanita” (baca: menghargai hak2 wanita sbg manusia, membebaskannya dari tirani dan hegemoni laki-laki/patriarki) dan bukan “me-lelaki-kan wanita” spt dalam pemikiran Feminis-radikal/posmo..

    salam kenal..

    Reply

  9. Posted by dewi trinoka on August 22, 2009 at 3:53 am

    feminisme boleh2 ja, tapi asalkan jgn kebabblasan, cos ada kwajiban yg musti kita hargai dan kita laksanakan, oke..!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s