Nilai recehan

Beberapa keping uang 100-500 -an lagi-lagi ditemukan oleh Umiku. Ini sudah kali berapa Beliau mengeluhkan banyaknya recehan yg berseliweran dimana2, kadang ada di atas meja, di laci, di atas tv, bisa juga di kolong bed, dan beberapa sudut rumah kami. Dan biasanya yg menjadi tersangka utama adalah sy.

”Uang hilang kan bisa dicari Mi”, ujar sy untuk menenangkan kuda-kuda omelannya.

”100 perak pun sulit mencarinya nak, jangan dianggap remeh..”

 

Meski penghasilan gak banyak2 amat, tapi memang sulit sekali untuk ”rapih” dalam urusan tersebut. Rasanya sulit banget, memperhatikan recehan untuk ku atur dalam dompet, atau menaruhnya dalam sebuah kantung koin. Pernah suatu kali, mencoba telaten dengan menaruhnya di kantung, itu hanya bertahan sekian hari, buntut2nya yah tetep cuek, plus dengan kantungnya yg tidak tahu ada dimana sekarang.

 

Teringat dulu pernah melihat dari jauh seorang fakir yang mencongkel2 sekeping receh yang sudah hampir tenggelam ditelan aspal karena terinjak sana sini. Lama sy amati, dan begitu payah dia mencongkelnya dengan sebuah tangkai besi sambil berjongkok, sambil mawas jangan2 akan ada mobil yang melintas, sayang tak sempat sy lihat apakah kepingan itu benar menjadi rejekinya.

 

Tapi sy yakin, akan ada binar2 bahagia saat sekeping itu copot dari jalan dan masuk ke sakunya, entah perut siapa yg sedang menunggu untuk disusupi sepotong roti pagi itu.

 

Tiap pengamen jalan, demi recehanpun berani menantang kerasnya jalan, ada harapan-harapan untuk nafas selanjutnya saat kantung tagihnya bergemerincing karena seperak 2 perak recehan.

“Bahkan 100 perak pun bisa menyelamatkan angka sejuta..

Adakah sy lalai dari syukur itu?, memperhatikan hal2 kecil tapi manfaat itu?, mungkin penghasilan sy tak seberapa, tapi sudah cukup membuat sy congak pada hadirnya recehan2 tersebut. Padahal mudah sekali bagiNYA membalikkan keadaan, dimana sy akan benar2 diajarkan mengenai recehan2 tersebut. Sebagai pelajaran sekaligus ujian.

 

7 responses to this post.

  1. kecil2 jadi manten
    *halah ga fokus*

    lam kenal

    Reply

  2. hatur nuhun tos ngalongok ka MIV

    Reply

  3. Alhamdulillah….

    Nikmat mana lagi kah yang kau dustakan???

    Reply

  4. Balik lagi ke ‘hal2 remeh itu penting’😉

    Reply

  5. @Vino : MIV teh naon?

    @Iko :🙂, bener mb..tnyata mengaktualkan syukur itu sulit..

    @Chie : iya chie, remeh ternyata penting.. memandang remeh itu yg kudu diilangin.. thx yak..;)

    Reply

  6. Stuju puank, ada kemungkinan kita kurang menghargai uang2 kecil karena KITA NGERASA KALO ITU UANG MILIK KITA.
    Coba bayangkan uang itu adalah amanah, insya Allah sekecil apapun gak akan diremehkan…

    Pengalaman jaga registrasi di bagian keuangan: 10 hari ngitung uang ratusan juta (sehari pernah nyampe 241 juta 250rb) itu bisa nangis kalo ilang selembar (maklum lebarannya 100 ato 50ribuan). Trus hari ke 4 pernah kena ‘tuduhan’ ngilangin 4 juta plus gebrakan meja dari sang bos. setelah hampir nangis semalaman n bawa tumpukan berkas registrasi, ngeprint database n meriksain 2 buku kwitansi, akhirnya ketauan itu smua cuma krn rekan kerja yg salah input ke database (alhamdulillah), alhasil sekarang jadi lebih bisa mawas diri sama uang… BESAR KECIL SAMA AJA< KALO KITA GAK BISA MENJAGA AMANAH YG KECIL GIMANA MAU MENJAGA AMANH YANG BESAR?

    Reply

  7. sama remehnya dengan kita tersenyum atau berucap terimakasih…

    la in syakartum la azidannakum wa la in kafartum inna azabi lasyadidd….

    merdeka!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s