Kripik dan Kritik

Ada yg suka kripik?..mmm, klo sy mah, bukan suka lagi bahkan dah addicted(beugh, makanan lagi…), entah itu kripik manis, asin atopun pedas.. pasti betah banget dimulut sy, g bakal berenti sblom bungkusannya kosong melompong,😀. Jelas banget, klo makan kripik itu lebih seru dimulut krn kondisi lidah sy yg rebes alias g kenapa2, g lg sakit gigi, sariawan, sehat wal-afiat gtu deh.

Klo kripik manis biasanya nih y, lebih enjoy diterima. Tapi yang pedas, hemm, tentu g smua lidah mampu berbetah2 ria dengan jenis satu itu, kecuali klo emang lidahnya emg dari sononya doyan, kyk punya sy..(halah, sy mah apa aj suka..:P..)

Klo dipikir2, kyknya filosofiny sama deh dengan kritik. Kritik baek?..ah kira2 sapa sih yang nd suka dengan kritik baek, klo disikapi dengan bae, bisa menjadi pacuan(pacuan kuda?..huss..) utk terus upgrading diri tanpa terlena dengan puji2an yg berlebihan. Tapi gmn dengan kritik pedas?.

Kripik pedas enak dimakan klo lidah dan perut kita dalam kondisi sehat. Lidah dalam well condition sehingga kalenjar ludah yg normal bisa membantu mencerna kripik tersebut, dibantu dengan gigi yg sehat. Tentunya dengan porsi yang proporsional. Apa2 yg berlebihan jelas kurang bae.

Sperti itu pulalah kritik pedas, enak diterima kala telinga dan hati kita dalam kondisi ‘dingin’. ‘Dingin’ krn paham bahwa kritik pedas yang diberikan semata2 adalah untuk mengupgrade dirinya ke depan biar lebih bae lagi. Ok, mungkin sj si pemberi kripik eh kritik emang bener2 sungguh menyindir kita, tapi jika disikapi dengan positif, mo ampe dower bibirnya si ‘pemberi kritik’, toh kita malah trus merasa nambah, dianya sengsara kitanya semakin tercerahkan. Klo emg dah ngerasa panas, tarik napas sedikit, refresh mind, tancapkan dlm sanubari bahwa kritik yg datang adalah bahan utk perbaikan diri, bahwa tak smua orang berani jujur pada kita utk mengkritik diri kita. So hargai si pemberi kritik, dgn gak perlu pasang tanduk, apalagi ampe ngebul2in asap..hehehe. Skali lagi, ini tergantung dari cara pandang kita.

Kritik dan sindir itu tipis banget loh bedanya, tapi hati yang diberi kiritik-lah yg mampu ngebedain itu.

Dan bagaimana agar hati itu bisa terus betah didera oleh kritik pedas?, yakni dengan nambah ilmu biar bs kenal bae sapa kita, apa2 sj yg menjadi SWOT(Strenghtness Weakness OppurtunitiesThreatness) diri ini.

So, keep fun aja klo di kasi kripik maupun kritik pedas. Nambah kenyang dan nambah bijaksana. Nyummy..;)

5 responses to this post.

  1. Posted by linda on July 2, 2007 at 2:49 am

    aih ada keripik disini🙂
    mau donk keripik kentangnya😀

    Reply

  2. Posted by Adink on July 2, 2007 at 7:24 am

    Memang dibutuhkan hati yang luar biasa besar, baik untuk menerima kritik (pedas) apalagi untuk menyampaikan kritik (yg pedas).

    —-

    Nah kalo Sy pribadi, soal kritik mengkritik, terus terang Sy lebih tahan dikritik daripada dikitik.

    Salam sesama kripik-pedas-vora🙂

    Reply

  3. Posted by mashuri on July 2, 2007 at 6:14 pm

    kripik-kritik-kitik, emang punya rasa yang beda……

    Reply

  4. Posted by Wahyu on July 6, 2007 at 3:34 am

    smart blog! some more please…

    Reply

  5. Posted by chie on July 11, 2007 at 9:26 am

    analoginya bagus Deen😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s