Mencari sesuap nasi bukan segenggam berlian

Ahad kemarin, beberapa bagian depan pagar rumah sy direnov, kalo dulu penuh dengan rumput ilalang, skrg Alhamdulilah sudah rapi dengan relief-nya, yah, masih empty dari ijo-ijo sih, tp ke depannya insyaAllah bakal diberesin lagi. At least, dah enak dipandang mata lah.

Relief itu ternyata cmn dikerjain 2 hari, dan oleh 2 orang. Ahad kemarin lah, sy baru tau sapa tukang yang mengerjai relief tersebut. Ternyata seorang pria dan seorang perempuan.

Hee?.. seorang Perempuan? Ibu-ibu pula.. Kontan sy langsung protes ke ortu, kenapa memilih tukang seorang perempuan, apakah tak merasa janggal, ataukah hemm… iba misalnya mempekerja seorang perempuan dibagian kerja kasar seperti itu.

”Klo tak dipekerjakan, justru Ibu itu makin sulit dapat yang dia cari2, pasti ada alasan jelas sampai dia memilih pekerjaan itu.. Yaaah..Mo mi diapa?”. jawab Umi sy.

Mo mi diapa?.. sebuah pernyataan in mks yang belakangan ini sy dengar. Kurang lebih artinya..”Yaah apa boleh buat”. Yah, Apa boleh buat, Ibu itu juga pasti berujar yang sama saat memilih pekerjaan itu. Toh, slama pekerjaan itu halal, well2 aja.

Di jakarta ini memang ladang mencari Sesuap Nasi dan Segenggam Berlian. Sy memang sudah sering melihat sopir busway perempuan, kenek perempuan atopun tukang ojek perempuan. Tapi tukang perempuan?. Bahkan di buku dan koran pun sy belum pernah tahu ada perempuan yg bergulat dengan kerjaan super maskulin itu.

Sy tertegun, saat tangannya mampu mengaduk adonan pasir dan semen, lalu menyemen beberapa bagian di sekitar relief. No, bukan adukan adonan roti ataupun cake. Tapi adukan pasir dan semen.

Di raut wajahnya, sesekali dia tersenyum pada sy yang lebih memilih diam memperhatikannya. Walo terik sudah mengusiknya, tangannya masih lincah melicinkan semen. Tak ada keluh di wajahnya, jadi malu, sy yang biasanya kerja di ruang AC, kadang masih suka mengeluh karena alasan yang sepele. Sy bener2 perlu belajar dari kegigihannya.

Ibu itu mungkin berfisik perempuan, tapi sungguh tak kehilangan izzahnya seperti perempuan, lebih tepatnya muslimah. Kalo banyak perempuan yang masih memilih menggantung identitasnya sebagai perempuan atopun muslimah, Ibu ini justru mantap dengan pakaian muslimahnya walo beliau bekerja kasar.

Sy salut, benar-benar salut.

Sy semakin sadar, bahwa ternyata masih banyak contoh-contoh teladan di sekitar kita. Sy hanya perlu jeli melihat bagaimana Rabb mengajar kita memandang hidup ini dengan arif, salah satunya dengan belajar dari guru-guru kehidupan yang bersahaja.


Rendahkan hatimu niscaya ilmu itu lebih mudah masuk ke dalamnya.

7 responses to this post.

  1. Posted by putri_angga on May 14, 2007 at 11:02 am

    itu baru namanya cewek!!! gak ada tuh jargon cewek itu lemah, cowok itu kuat….

    hahahhaha gender banget yah???

    btw makasihhh yaa udah mampir!

    Reply

  2. Posted by bobby on May 15, 2007 at 4:28 am

    🙂
    wah… jadi ibu ini si pekerja kasar ya…
    tuh deen!!!
    kau sih ngeluh mulu’ kalo kerja… ibu itu aja kerja pake otot nga ngeluh…
    apalagi yang cuma ketimbang pake otak sama jari heheheh
    (nyinggung nih ceritanya :P)

    Reply

  3. Posted by Muhammad Ilham on May 17, 2007 at 4:56 am

    aku sudah lupa, kapan terakhir kali menangis tahun ini. Tapi saat membaca tulisan ini, hatiku gerimis. Ya, aku memang menangis.

    JazakiLlah, sudah men-trigger kembali kesadaranku yg sempat menguap belakangan ini.

    salam,
    ur bro [Muhammad Ilham]

    Reply

  4. Posted by AWe on May 18, 2007 at 5:35 am

    seorang ibu akan selalu berjuang untuk kehidupan keluarganya

    Reply

  5. Posted by rusle on May 18, 2007 at 9:38 am

    salut…
    kadang kita tak perlu memandang mereka dari masker agama apa yg mereka anut, tp dari kegigihahnnya mempertahankan izzah dan pendiriannya…

    I do what i say i will do

    Reply

  6. Posted by Wahyu on May 19, 2007 at 8:18 am

    Ibu2 yg hebat, se jadi mikir, mungkin dia kerjakan smua itu buat anak2nya supaya bisa sekolah, supaya nda harus kerja keras kayak dia
    .
    Beruntunglah kita2 ini yg masih punya Ibu, yang tdk hrs sampe jadi tukang demi menyekolahkan kita (walaupun kita yakin, kalo terpaksa, Ibu kita juga rela jadi tukang demi anak2nya)

    Jadi makin sayang mama…

    Reply

  7. Posted by deen on May 21, 2007 at 4:24 am

    @Angga : ce ma co itu kan partneran..saling melengkapi..🙂

    @bobby : eits, se ngeluh cmn buat nge-notifikasi diri buat upgrade semangat lagi cess…(membela diri😀..)

    @K’Ilo : Waiyyaka akhi🙂

    @Awe : Setuju we, emg mulia bgt yah jadi seorang Ibu

    @Daeng Rusle : se jd salut daeng, salut dan mudah2an difollow up dengan meneladani

    @Wahyu : wets yg sayang mama, se juga ah..makin sayang umi..;)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s